oleh

30 Detik Gempa Intensitas Tinggi Berturut-turut Segera Cari Tempat Aman

PADANG, KABARSUMBAR – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo mengingatkan masyarakat yang tinggal di zona rawan gempa dan tsunami jika terjadi gempa selama 30 detik dengan intensitas tinggi secara berturut-turut agar segera mencari tempat aman untuk berlindung.

“Katakanlah 30 detik berturut-turut dan besar maka jangan lagi menunggu alarm atau sirine berbunyi, karena bisa jadi tidak berfungsi karena patah atau listrik mati,” ungkapnya.

Maka itu kata dia, tiga menit pertama setelah terjadi gempa dengan intensitas tinggi, masyarakat harus segera menghindar dari tempat yang berbahaya, di antaranya bangunan maupun pinggir pantai.

Hal itu bertujuan untuk dapat meminimalisir dampak korban jiwa yang akan ditimbulkan. Jadi jangan khawatir tetapi masyarakat harus tetap waspada.

“Dari sekaranglah siapkan segala sesuatunya dan tetap berikhtiar kepada Allah. Kalau sempat terjadi kita sudah siap, bukannya panik,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya menyebutkan sesuai pesan presiden untuk melakukan pelatihan atau simulasi secara rutin dan berkala dari pagi hingga malam hari bagaimana cara mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

“Apa yang di hadapi hari ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba terjadi, semuanya sudah ada tanda-tanda alam. Tadi dijelaskan adanya patahan kawasan megatrusht Mentawai sudah ada energi yang lepas,” katanya.

Selain itu, masyarakat tidak boleh menyalahkan alam dan harus hidup berdampingan dengan alam. Karena banyak pelajaran yang bisa dipetik. Seperti ilmu untuk belajar dengan alam dari ranah Minang Sumbar.

“Jadi sangat disayangkan hari ini dan kedepannya orang Minang kurang memperhatikan masalah kearifan lokal ‘Alam Takambang Jadi Guru’,” tuturnya.

Menurutnya, seluruh kabupaten dan kota yang ada di Indonesia, harus memperhitungkan benar IMB, sesuai daerah masing-masing. Contohnya Kota Padang merupakan daerah dataran rendah yang ketinggian permukaan daratan di Kota Padang kurang dari 10 meter.

“Sehingga jika ada gelombang yang ketinggiannya lebih dari 10 meter maka air bisa saja masuk menghantam sampai 2,5 kilometer, artinya masyarakat yang tinggal dekat dari bibir pantai ke daratan harus diberitahu dan perlu segera pemasangan rambu-rambu bencana.

Sementara itu, ahli gempa Danny Hilman Natawijadja dari Laboratorium gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan ancaman gempa di bawah Pulau Siberut atau gempa megathrust sudah di depan mata.

“Kapan waktunya, kita tidak tahu, tapi sebenarnya masanya sudah lewat, sejak gempa Mentawai 2007 namun ini baru buntutnya, kini tinggal menunggu,” sambungnya.

Pihaknya mengingatkan pentingnya mitigasi karena selama ini sangat kurang dan jauh tertinggal. Namun itu bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia internasional. “Jangan sudah terjadi bencana gempa baru datang ramai-ramai melakukan tanggap darurat,” kata Danny.

Dikatakannya, jika tsunami terjadi pada siang hari, kira-kira bisa menimbulkan 150 ribu jiwa berdasarkan hitungan manusia bergerak dengan lebar jalan, belum termasuk hambatan lain seperti macet oleh kendaraan, tiang listrik dan bangunan yang roboh.

“Tidak bisa membayangkan jika Kota Padang dihantam tsunami yang akan bisa merusak pelabuhan laut dan udara yang hanya terletak 300 meter dari bibir pantai.

Tentunya, kota berpenduduk lebih 900 ribu jiwa tersebut nantinya akan bisa terisolasi karena jalan darat juga melewati Bukit Barisan.

(Putri Caprita)

Komentar

Lainnya