Fikri Ramadan S ‘Ariel NOAH Junior’

Fikri Ramadan Siregar, bocah empat tahun saat manggung di J-Six Cafe, Padang, Sumatera Barat
Fikri Ramadan Siregar, bocah empat tahun saat manggung di J-Six Cafe, Padang, Sumatera Barat

Kebanyakan anak baru bisa disebut jenius atau berbakat di usia sekolah. Bahkan sebagian besar anak-anak mulai bisa bernyanyi dengan baik pada usia 3 tahun. Seperti Fikri Ramadan Siregar. Bocah berusia empat tahun itu dengan lancar menyanyanyikan lagu karya Ariel NOAH Band dan Ruth Sahanaya di Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Putra pasangan Desdi Ponti Siregar, 37. Sriladevi Harahap, 35 menyanyikan sampai lima lagu sekaligus di J-Six Cafe, Jalan Juanda, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumbar, Minggu malam (8/10/2017). Beberapa diantaranya lagu ‘Walau Habis Terang’ album ‘Sebuah nama sebuah cerita’ yang dirilis pada Agustus 2008 oleh Peterpan dengan genre Pop Musik. Fikri nan polos usai bernyanyi melanjutkan lagu berjudul ‘Separuh Aku’ merupakan single perdana NOAH yang diluncurkan pada Agustus 2012. Album perdana itu sempat mencapai satu juta kopi. Bahkan versi demo single ‘Separuh Aku’ sempat bocor di internet 2010. Itu terjadi setelah peralihan nama dari Peterpan menjadi NOAH. Tak habis disitu saja, Fikri pun melantukan lagu berjudul Topeng, album Taman Langit yang dirilis September 2003, dimana vokalisnya Ariel, Lukman (guitar) Uki (guitar), Indra (bass) Andika (piano, keyboard), Reza (drums, percussion). Kemudian lagu ‘Andaikan Kau Datang’ oleh Ruth Sahanaya.

Hujan Minggu malam itu memberi warna dan hiburan bagi pengunjung cafe oleh Fikri dan sekaligus mengembangkan imajinasi dan rasa percaya diri, kreatif dan berani tampil di depan umum. Ia yang polos lagi lugu menuntaskan lagu karya artis ibukota, tak peduli dengan suara serak, ia tetap percaya diri bernyanyi. Bahkan, gayanya saat menyanyi pun meniru gaya vokalis Ariel NOAH.

Kemampuan anak dalam bernyanyi pada usia dini ini biasanya didasarkan oleh pengalamannya pada saat mendengar musik ataupun mendengar orangtua dan orang-orang di sekitarnya bernyanyi. Desdi Ponti Siregar, bukanlah seorang musisi demikian dengan Fikri, putranya. Mungkin karena sentuhan lembut sang ayah mengajarkan anak-anaknya, Fikri dapat menyanyikan lagu.

“Papa yang ngajarin,” ujar Fikri dengan polos dan capek usai melampiaskan hobbinya.

Fikri mengatakan, kalau Desdi acap kali memutar musik dalam mobil saat sedang berpergian. Bahkan ketika di rumah, Desdi memutar musik di pagi hari dan ia pun menirunya. “Papa sering putar musik, dan Fikri disuruh dengerin lalu nyanyikan kembali,” ucapnya malu-malu, yang ditemani sang kakak Aira Fatimah Siregar, 7.

Pengunjung cafe pun bertepuk tangan saat Fikri bernyanyi. Salah seorang pengunjung mengatakan, anak seperti itu perlu diasah bakatnya. Ia merupakan aset. “Beruntung sekali orang tua yang memiliki anak seperti Fikri, tampil tanpa diminta dan mau bernyanyi, tinggal dipoles lah semoga ia tumbuh besar dan jadi musisi hebat tanah air,” ujar Tanhar.

 

Menurut Montessori World Educatiotal Institute, semua orang lahir dengan kemampuan untuk belajar musik. Namun keterampilan tersebut harus terus dipupuk. Nyalakanlah radio di mobil dan bernyanyi sambil masak atau bersih-bersih rumah. Jika si buah hati melihat orangtuanya senang bernyanyi, ia pun akan terbiasa untuk bernyanyi.

Semakin sering anak mendengar orang tua atau orang disekitarnya menyanyi dengan benar dan sesuai dengan nada, semakin besar kemungkinan anak bisa menyanyi. Ketika anak sudah lebih besar, bantulah untuk menikmati musik secara aktif, dengan cara melakukan gerakan-gerakan sesuai irama atau ikut bermain instrumen-instrumen sederhana.

Loading...
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...