Hujan Es, Berdasarkan Ilmu Geografi dan BMKG

Proses Hujan Es by USGS
Proses Hujan Es by USGS

PADANG, KABARSUMBAR—Beberapa waktu lalu, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) dikejutkan terjadinya hujan es, tepatnya di Tanjung Pati. Masyarakat setempat buncah dan para pengendara di jalan raya tak kuasa melawan badai dan hujan.

Indonesia acap mendapati fenomena hujan es, bukan hujan salju. Kenapa peristiwa tersebut, menurut ilmu geografi, yang kita pelajari sewaktu sekolah, pertama hujan es yang sejatinya juga mirip dengan hujan air, muncul pertanyaan apakah proses terjadinya hujan es ini sama dengan proses terjadinya hujan air? Air di seluruh wilayah bumi ini mencapai dua per tiga bagian, yang sepertiga bagian lagi adalah daratan.

Nah, berikut adalah proses terjadinya hujan es, Air yang banyak tersebut tersimpan dalam satu wadah yang dinamakan samudera, laut, sungai, danau, rawa, dan lain sebagainya. Kemudian air- air tersebut akan mengalami penguapan atau disebut dengan evaporasi melalui bantuan sinar matahari. Termasuk pula dengan air yang berada di dedaunan tumbuh- tumbuhan atau di permukaan tanah.

Proses penguapan air (khususnya dari tumbuh- tumbuhan) tersebut dinamakan transpirasi. Uap air yang dihasilkan dari penguapan tersebut akan mengalami pemadatan atau kondensasi yang kemudian menjadi awan.

Kemudian awan- awan tersebut bergerak sendiri- sendiri ke tempat yang berbeda- beda dengan bantuan angin, baik angin yang berhembus vertikal maupun horisontal. Lalu awan yang mengandung uap air tersebut tertiup dan sampailah pada tempat yang suhunya lebih dingin dan mencapai dew point atau titik embun, lalu mengembun, dan karena beratnya embun ini maka turunlah menjadi titik- titik hujan.

Ketika telah mengembun tersebut, sudah menjadi air, dan tertiup oleh angin thermis yang naik, ke ketinggian yang memiliki temperatur dibawah titik beku, embun tersebut akan berubah menjadi es yang akan jatuh ke bawah. Ikatan antar molekul es ini lebih kuat daripada antar molekul air, karena es merupakan benda padat.

Hal itu menyebabkan es tersebut jatuh ke bawah dengan bentuk yang tidak rapi teratur, bisa seukuran kerikil, namun ada juga yang hingga seukuran kepalan tangan.

Tanda-tanda terjadinya hujan es, dapat kita ketahui melalui tanda- tanda tertentu. Hujan es ini datangnya biasanya disertai dengan angin darat kencang atau kadang angin puting beliung. Turunnya hujan es ini dapat diprediksi dari sifat atau keadaan yang berada di sekitar kita.

Ini menjadi sangat perlu diketahui oleh kita yang sedang berada di luar rumah. Hujan es yang biasanya disertai dengan angin puting beliung ini berasal dari jenis jenis awan yang memiliki sel tunggal berlapis- lapis dekat dengan permukaan bumi. Selain itu dapat pula berasal dari multi sel awan, pertumbuhannya ini secara vertikal dan luas area horisontalnya sekitar 3 -5 kilometer.

Hujan es ini terjadi dengan durasi yang sangat singkat, antara 3 hingga 5 menit. Hujan es  yang paling lama adalah dengan durasi 10 menit, dan itupun sangat jarang terjadi. Maka biasanya hujan es ini sifatnya lokal dan tidak merata.

Dan jenis yang berlapis- lapis ini menjulang arah vertikal hingga ketinggian lebih dari 30.000 kaki. Jenis awan yang bentuknya berlapis- lapis menyerupai kembang kol ini disebut dengan awan Cumulo Nimbus atau CB yang juga merupakan musuh terbesar para pilot pesawat.

Hujan es ini dalam ilmu meteorologi disebut juga dengan hail. Hail atau hujan es ini adalah presipitasi yang terdiri atas bola-bola es. Salah satu pembentukan dari bola- bola es ini adalah melalui kondensasi uap air lewat proses pendinginan di atmosfer pada sebuah lapisan yang terdapat di atas level beku.

Biasanya, hanya es yang berukuran besar saja yang terjadi dengan proses seperti ini. Karena ukurannya yang besar, sehingga meski es sudah turun ke suhu yang lebih hangat dan daerah lebih rendah, tidak semua es ini menjadi cair (mencair).

Berikut penjelasan berdasarkan ilmu dan prakirawan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan es terjadi karena peralihan musim. Ketika parsel udara (partikel BMKG sebut) naik akibat proses konveksi naik ke atas, sampai berubah menjadi butir-butir awan dan dari sana akan tumbuh.

Apabila konvektif di dasar sangat kuat di bawah, awan kian tebal dan komponen es semakin besar. Kemudian itu terjadi apabila hujan lebat disertai petir dan angin kencang dengan durasi singkat.

Ciri-ciri ketika terjadi hujan es, yakni satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah; udara terasa panas dan gerah akibat adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembapan yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembapan udara di lapisan 700 mb (> 60%); Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan kumulus (awan putih berlapis-lapis).

Di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol; Awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal dengan awan kumulonimbus; Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat; Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitartempat berdiri; Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis, kejadian angin kencang jauh dari tempat berada.

Jika 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

Oleh karena itu, sahabat Kabarsumbar.com, salah satu yang menyebabkan terjadinya hujan es adalah pembekuan. Dimana pada kondisi ini, uap air lewat dingin tertarik ke permukaan benih- benih es. Kemudian karena terjadi pengembunan yang mendadak, maka terjadi pembentukan es dengan ukuran yang sangat besar.

Sebenarnya hujan es ini bukanlah fenomena alam yang aneh dan langka. Hujan es ini sudah seringkali terjadi bisa saja menimpa daerah- daerah tropis bahkan bukan di saat musim penghujan. Butiran es yang jatuh saat hujan es merupakan kondensasi dari air hujan yang menggumpal di atas permukaan bumi yang disebut dengan awan gelap.

(disadur dari berbagai sumber)

[berniatman]