Kelangkaan Solar di Sumbar, Pertamina Prediksi hingga Akhir Tahun

Foto : internet

Padang – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Bio Solar di Sumatera Barat (Sumbar) diprediksi bakal terjadi hingga akhir tahun 2022. Hal ini diungkapkan Pertamina MOR I Wilayah Sumatera Barat.

Sales Area Manager Pertamina Sumatera Barat I Made Wira Pramarta mengatakan, penyebab utama dari kelangkaan solar adalah dipotongnya kuota dari BPH Migas.

“Hal ini yang menyebabkan ada antiran Panjang pada setiap SPBU Di Sumbar dalam beberapa hari belakangan,” kata I Made Wira di Padang, Rabu (23/2).

Dia menjelaskan, saat ini kuota solar sendiri tidak ditentukan Pertamina, melainkan BPH Migas. “Dalam hal ini, kami hanya menyalurkan, dan tidak memiliki kewenangan dalam penambahan kuota,” jelasnya.

Dia menerangkan, kebutuhan solar di Indonesia saat ini mencapai 15,1 juta kilo liter setiap tahunnya.

Sedangkan untuk wilayah Sumatera Barat mencapai 411 ribu kilo liter setiap tahunnya. “Secara global, kuota untuk BBM jenis solar ini terpotong tiga persen, dibandingkan kondisi sebelumnya,” katanya.

Pemprov Sumbar Diminta tambah Kuota Solar

Untuk mengantisipasi kelangkaan tersebut, pihaknya pun menyarankan agar Pemprov Sumatera Barat mengusulkan penambahan kuota, berdasarkan kebutuhan wilayah ke BPH Migas. “(Disarankan) Pemerintah Daerah meminta penambahan kuota (Solar) ke BPH Migas,” katanya.

Apabila hal itu tak dilakukan, pihaknya meragukan akan ketersediaan solar hingga akhir tahun 2022 ini.

“Kita (prediksi), kalau hal itu (permintaan penambahan) tidak dilakukan, maka (bisa) saja ketersediaan solar tidak cukup hingga akhir tahun ini (2022),” sebutnya.

Sementara itu, Kasubdit 5 Polda Sumbar Kompol Firdaus mengatakan, hingga sekarang, pihaknya masih melakukan tindakan preventif terhadap pengendara dan masyarakat.

“Sepanjang 2021, ada enam kasus yang kita ungkap terkait indikasi tindakan menyalahi aturan terkait BBM ini. Untuk tahun 2022, tepatnya Februari 2022 ini, ada dua kasus yang kita ungkap, semuanya kasus modifikasi tank mobil yang tak sesuai standar dari kendaraan tersebut,” katanya.