Ragam  

Mengenal Lebih Dekat Perjalanan Hidup Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol. Foto: Internet

Padang – Tuanku Imam Bonjol lahir pada tanggal 1 Januari di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung pada tahun 1772. Beliau merupakan salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang dalam melawan Belanda. Nama asli Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, putra dari pasangan Bayanuddin Shahab (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya merupakan seorang alim ulama (khatib) dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota.

Tuanku Imam Bonjol mempunyai beberapa orang istri, tetapi yang selalu mendampinginya hingga akhir hayat, yaitu Hajjah Solehah. Melalui pernikahannya dengan Solehah, dia dikaruniai 10 orang anak, yaitu lima orang anak laki-laki dan lima orang anak perempuan. Anak-anaknya adalah Hasan, Hasyim, Harun al-Rasyid, Syahrudin, Djusnah, Sawwadjir, Hasanah, Rofiah, Cholidi, dan Nur Baiti.

Selama hidup, Tuanku Imam Bonjol memiliki banyak peran di daerah kelahirannya. Seperti membangun kehidupan yang mendidik dengan mengajar di surau, masjid, dan pesantren sekaligus menjadi pemimpin para jemaahnya. Beliau juga panutan di masyarakat, serta membantu kehidupan masyarakat yang susah dan menganjurkan mencari penghasilan yang menguntungkan untuk masyarakat.

Beliau juga salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan, Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam menunjuknya sebagai imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Akhirnya, dia dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol.

Maka dari itu Syahab adalah seorang ulama, pejuang , dan tokoh yang dituakan di masyarakat. Yang menjadikan dirinya sebagai tempat untuk meminta nasihat, petunjuk,dan tempat mengadu untuk segala hal, baik itu dalam hal dunia maupun keagamaan. Beliau mendapatkan beberapa gelar dari masyarakat yaitu Peto SyarifMalin Basa, dan Tuanku Imam.

Pada tanggal 6 November 1864, beliau wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotta, Pineleng, Minahasa. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

Ghaniyya Zuhud