Mengenal Samba Nan Anam dan Samba Nan Sambilan, Kuliner Khas Minangkabau

  • Bagikan
Mengenal Samba Nan Anam dan Samba Nan Sambilan, Kuliner Khas Minangkabau

Bukittinggi – Dalam kondisi Pandemi yang sudah berjalan dua tahun lebih, Propinsi Sumatera Barat bisa menggelar beberapa rangkaian acara dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sumbar. Salah satu acaranya yaitu Menggelar Pameran Kuliner Tradisional untuk seluruh daerah Kab/Kota se- Sumbar.

Hal ini disampaikan MC Linda Zoebir yang akrab di panggil Bundo ini mengatakan sejumlah kuliner dipilih untuk dihidangkan dalam pameran, Senin 11 Oktober 2021.

Bundo Linda Zoebir

“Di Pameran ini kita Bukittinggi memilih Hidangan Tradisional disaat acara ‘Maanta Uang’ yang merupakan bagian dari rangkaian acara Pernikahan di Kurai Limo Jorong. Kita tahu bahwa di Kurai untuk Kuliner dalam Perhelatan ada yang disebut ‘Samba Nan Anam’ dan ‘Samba Nan Sambilan’ ,” ujarnya.

Baca Juga :  Wako Erman Safar Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Singgalang Tahun 2021

Bundo Linda lebih lanjut mengatakan Adapun Samba nan Anam itu terdiri dari; Randang, Anyang Dagiang, Gulai Ayam Naneh, Pangek Bada, Karupuak Maco Arai, dan Sayua Kuah Putiah.

Sedangkan Samba nan Sambilan, Samba yang Anam ini sudah termasuk didalamnya. Yang tiga lagi adalah: Gulai Paruik, Taruang Utuh balado dan Paragede (Pergedel).

“Inilah macam-macam Kuliner Kurai yang disajikan didalam perhelatan di Nagari Kurai Limo Jorong. Seperti acara: Batagak Gala Pangulu, Baralek Kawin, Baralek Khatam, dan Baralek Gadang lainnya yg digelar secara Adat,” jelasnya.

Ia menambahkan adapun untuk menjamu pihak Laki-laki dalam acara ‘Maanta Uang’ tidak semua Samba ini yang disajikan. Tapi ada beberapa saja dari Samba Adat yang dipilih oleh pihak Perempuan seperti : Randang, Anyang, Ayam Naneh, Sayua Kuah Putiah, Karupuak Maco & Taruang.

Baca Juga :  Bita Malang, Gajah Sumatera Tutup Usia

“Dan yang terkhusus disini, sesuai dengan judulnya ‘Maanta Uang’ maka pihak Laki-laki membawa uang yang dibungkus dengan Saputangan. Ini dilakukan dua sampai tiga hari sebelum Hari Pernikahan,” imbuhnya.

Biasanya orang memilih hari sebelum hari Pasar, karena pihak keluarga Perempuan akan pergi Belanja dihari Pakan (Rabu dan Sabtu) di Bukittinggi.

“Adapun makna dari acara ini adalah: Barek Sapikua,Ringan Sajinjiang,” pungkasnya.

  • Bagikan