Krisis Multidimensi Hantui Sri Lanka dan Pakistan

Krisis Mengancam Pejabat Tinggi Sri Lanka dan Pakistan

Tbilisi – Sri Lanka dan Pakistan berjuang menghadapi krisis multidimensi selama dua tahun terakhir, yang disebabkan oleh perubahan iklim, konflik, kerawanan pangan, dan lonjakan utang.

Menteri Keuangan Sri Lanka, Shehan Semasinghe, menyoroti kesulitan yang dihadapi negaranya. Ekonomi Sri Lanka mengalami kontraksi -7,3% pada 2022, membaik menjadi -2,3% pada 2023.

“Sri Lanka sedang dalam pemulihan ekonomi dan stabilisasi berkat dukungan signifikan selama masa-masa sulit pada 2022,” kata Semasinghe dalam Pertemuan Tahunan Asian Development Bank (ADB) ke-57 di Tbilisi, Georgia.

ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sri Lanka sebesar 1,9% pada 2024 dan 2,5% pada 2025. Inflasi diperkirakan turun menjadi 7,5% dan 5,5% pada 2025.

Pakistan juga menghadapi tantangan yang kompleks. Ekonominya berkontraksi -0,2%, inflasi mencapai 29,2% pada 2023, dan utang luar negeri meningkat tajam.

Menteri Ekonomi Pakistan, Ahad Khan Cheema, menyatakan negaranya kini membaik, namun perubahan iklim tetap menjadi kekhawatiran utama.

“Dampak krisis iklim memperparah tantangan ekonomi Pakistan, memperburuk kerentanan air dan pangan, serta meningkatkan kemiskinan,” tegas Cheema.

Cheema berharap ADB dapat mendukung negara-negara berkembang dan miskin agar terhindar dari jeratan utang.

“ADB memiliki peran penting sebagai bank iklim,” imbuhnya.

Pakistan baru-baru ini mengalami banjir dahsyat yang mengakibatkan kerusakan parah. Cheema berharap ADB dapat memberikan bantuan pendanaan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.