Nasib Muna, Janda 4 Anak asal Pangian yang Tinggal di Rumah tak Layak Huni

Muna bersama dua anaknya di depan rumah yang ditempatinya. Foto : S3 Lintau
Muna bersama dua anaknya di depan rumah yang ditempatinya. Foto : S3 Lintau
Muna bersama dua anaknya di depan rumah yang ditempatinya. Foto : S3 Lintau
Muna bersama dua anaknya di depan rumah yang ditempatinya. Foto : S3 Lintau

Malang benar nasib Muna dan empat anaknya. Saat orang tinggal di rumah mewah, dia hanya bisa tinggal di rumah reot tak layak huni. Muna sempat optimistis ketika dia diusulkan program bedah rumah, namun batal karena birokrasi. Meski begitu, Komunitas Sedekah Seribu Sehari (S3) Lintau bertekad mendirikan rumah untuk Muna dengan swadaya.

Selasa (29/5/2018) rombongan ibu-ibu yang tergabung dalam S3 Lintau mendatangi rumah Muna, janda asal JorongTago Palange, Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Tanah Datar. Ketika itu janda yang ditinggal kawin dan tak pernah dinafkahi mantan suaminya itu sedang bersih-bersih rumah.

Di rumah yang lebih layak disebut gudang itu Muna dan empat anaknya tinggal. Jangan bayangkan rumah yang dihuni Muna ini adalah rumah yang di dalamnya ada ruang tamu, ada kamar tidur, ada kamar mandi dan ada dapur. Namun Rumah yang dihuni Muna ini hanya sebuah ruangan reot, di ruangan itu dia tidur, dia masak, dia menerima tamu, dia berkegiatan bersama anak-anaknya.

Atap rumah tersebut sudah bocor di sana-sini, sehingga ketika hujan tiba, Muna harus siapkan ember dan kain agar dia dan anak-anaknya tidak terkena percikan air hujan. Lantainya pun sudah lapuk, sehingga untuk berjalan saja penghuni rumah harus berhati-hati.

Di sisi lain, tidak ada batasan antaranya dirinya dengan anak-anaknya. Mereka tidur di ruangan yang sama, hanya sebuah triplek lapuk dipasang di dinding untuk menjadi pembatas antara dirinya dan anak-anaknya.

Prihatin dengan kondisi Muna, Komunitas Sedekah Seribu Sehari (S3) Lintau mencoba menginisiasi agar Muna mendapatkan program bedah rumah. Semua persyaratannya pun diurus. Salah satunya adalah surat dari pemilik lahan bahwa Muna akan diizinkan tinggal di rumah yang akan dibangun itu sampai kapan pun Muna mau.

Usulan dimasukkan, Muna dan anak-anaknya yang berprestasi di sekolah menunggu dengan harap. Begitu juga dengan ibu-ibu Komunitas S3 Lintau yang memperjuangkannya. Namun, kabar baik yang ditunggu, ternyata kabar buruk yang datang. Permohonan bedah rumah Muna ditolak.

“Sebenarnya rumah untuk Muna akan dibangun oleh Baznas Tanah Datar. Namun izin dari yang punya tanah kurang kuat, makanya tidak bisa. Untuk lebih jelas silakan tanya ke pengurus BAZ Lintau Buo,” ujar Novarisman, Sekretaris Nagari Pangian.

Tak mau larut dalam kekecewaan, ibu-ibu S3 Lintau mengambil inisiatif agar Muna tetap mendapatkan rumah yang layak melalui pembangunan rumah secara swadaya. Mereka bergotong royong membangun rumah. Untuk bahan, mereka membuka donasi, sedangkan untuk tenaga, S3 Lintau melakukan apa yang mereka bisa, seperti membersihkan lokasi pembangunan, mengangkut batu, mengangkut tanah.

Komunitas S3 Lintau mulai bergotong royong untuk membangun rumah untuk keluarga Muna. Foto : S3 Lintau
Komunitas S3 Lintau mulai bergotong royong untuk membangun rumah untuk keluarga Muna. Foto : S3 Lintau

Untuk tenaga, mereka merekrut tukang professional dan menggandeng pemuda untuk gotong royong. “Meski berat, kita akan tetap berjuang. Kita yakin di bulan Ramadan ini Allah SWT akan membuka pintu hati perantau dan kaum muslimin untuk membantu mendirikan rumah untuk ibu Muna,” jelas Sri Chandra Nurlaili.

Ketika ditanya siapa oknum petugas Baznas Tanah Datar yang menyatakan bahwa rumah Muna tidak bisa dibangun karena permasalahan tanah, Sri Chandra mengatakan tidak ingin mengungkit masalah itu lagi. “Pemerintah banyak yang akan diurusnya. Apa yang kita lakukan juga bagian dari upaya membantu pemerintah,” ujarnya.

Menurut perempuan yang akrab dipanggil Iis ini, untuk membangun rumah Muna dibutuhkan biaya Rp 20 juta. “Saat ini yang sudah terkumpul Rp 8 juta. Mudah-mudahan ada tambahan jelang Lebaran,” jelasnya

Sri Chandra berharap bagi orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki agar bersedia memberikan bantuan untuk pembangunan rumah Muna ini. Adakah yang peduli?

(Hijrah Adi Sukrial)