Pudarnya Budaya Minang, Siapa yang Tanggung Jawab?

  • Bagikan
Rumah Gadang sebagai Budaya Minag. Foto: Internet

Kebudayaan menjadi identitas yang melekat pada suatu etnis. Kebudayaan inilah yang menjadi aset etnis tersebut dari generasi ke generasi. Namun, seiring berkembanganya zaman, eksistensi kebudayaan ini pun mulai mengkhawatirkan.

Indonesia merupakan negara yang memiliki puluhan ribu pulau dan lima kepulauan besar, diantaranya adalah Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan Pulau Sumatera. Dari kelima pulau ini, Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau yang terbesar dan juga terbagi menjadi beberapa provinsi.

Pulau Sumatera mempunyai salah satu provinsi yaitu Sumatera Barat (Sumbar) dengan ibu kota yaitu Kota Padang. Wilayah Sumatera Barat ini berada di sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah serta sejumlah pulau yang berada di pelas pantainya, seperti kepulauan Mentawai. Provinsi Sumatera Barat memiliki luas sekitar 42.297,3 km persegi.

Sumatera Barat memiliki keberagaman budaya yang sangat beragam. Mayoritas penduduk dari Sumatera Barat ini adalah etnis Minangkabau karena Sumbar memiliki 12 kabupaten dan 7 kota besar yang memiliki ciri khas yang sangat berbeda-beda.

Minangkabau mempunyai banyak sekali ragam budaya. Mulai dari makanan, bahasa, suku, tradisi, alat musik dan masih banyak lagi. Orang zaman dahulu sangat kental akan budaya Minangkabau. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki sumatera barat itu kental akan budaya. Maksudnya adalah segala sesuatu yang akan dilakukan atau yang akan dikerjakan itu pasti ada aturan yang ditentukan dalam suatu adat. Adat ini juga berlandaskan pada agama yang nantinya akan menjadi budaya dari tempat tersebut. Oleh karena itu, di minangkabau terkenal dengan semboyan “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.

Namun, masa demi masa budaya yang dulunya sangat dijunjung tinggi oleh ninik mamak minangkabau ini semakin memudar. Lantas, siapa seharusnya yang bertanggung jawab akan hal itu?

Yang dahulunya itu, budaya sudah diajarkan sejak dini dari keluarga tapi dimasa sekarang, pada kenyataannya keluarga yang ada di minangkabau sudah tidak mengajarkan budaya tersebut ke anak dan cucu mereka. Sehingga anak tersebut tidak mengetahui bagaimana budaya yang diajarkan oleh buyut mereka sebelum si anak duduk di bangku pendidikan. Salah satunya adalah proses acara pernikahan di Minangkabau.

Baca Juga :  Wow! Tari Piring Menarik Perhatian dibeberapa Ajang Kancah Internasional

Pada zaman sekarang ini, banyak orang tua yang lebih memilih untuk mempersingkat tata cara pernikahan anaknya. Dalam budaya minangkabau itu sendiri mempunyai beberapa rangkaian acara sebelum akad nikah, namun bisa dilihat pada saat ini banyak acara pernikahan yang sudah tidak lagi melakukan rangkaian prosesi tersebut dan memilih langsung pada acara akad nikah yang diikuti dengan acara baralek atau biasa disebut dengan resepsi. Hal ini menunjukan, bahwa yang menjadi salah satu penanggung jawab akan memudarnya budaya minangkabau adalah keluarga. Tidak masalah jika ingin menyelenggarakan suatu pernikahan dengan adat minangkabau langsung dengan akad nikah.

Namun, seharusnya sebagai orang tua juga harus menjelaskan kepada anaknya tentang rangkaian proses pernikahan yang seharusnya dilakukan sebagai upaya melestarikan budaya Minangkabau. Jadi, si anak juga mengetahui bagaimana budaya pernikahan yang ada di minangkabau sebagai ilmu yang nantinya akan diteruskan kepada anaknya nanti. Sehingga tidak ada lagi orang-orang terutama anak berusia muda yang tidak tahu tentang kebudayaan pernikahan di minangkabau. Dengan begitu, budaya pernikahan minangkabau tidak akan memudar, walau pelaksanaannya sudah jarang sekali dilaksanakan. Karena pendidikan yang pertama didapatkan itu adalah dari keluarga itu sendiri.

Norma, adat, dan budaya sejak dahulu menjadi kebanggaan tersendiri oleh orang Minang. Budaya, adat, dan logat yang kental dimiliki oleh orang Minang akan terlihat jelas apabila orang tersebut berpindah tempat atau ke tempat lain. Hal ini disebabkan oleh kekentalan logat yang memiliki ciri khas tersendiri oleh orang Minang atau Sumbar tersebut.

Budaya Minangkabau saat ini juga terlihat kekuatannya pada saat dilakukan secara lisan, namun hal ini sangat berpengaruh terhadap ragam dan gaya bahasa yang digunakan. Bahkan, ragam tradisi lisan ini juga terlihat dalam komunikasi sehari-hari

Akan tetapi, saat ini kebudayaan yang beragam dari Sumbar ini telah memudar karena banyak kebudayaan-kebudayaan luar yang masuk sehingga masyarakatnya sendiri mengabaikan kebudayaan yang dimilikinya. Hal ini terjadi karena kemajuan teknologi yang sangat canggih dan juga budaya kebarat-baratan yang dimiliki anak muda yang menjadi salah satu faktor memudarnya kebudayaan tersebut.

Baca Juga :  Relokasi PKL Kelok 9 Harus Jadi

Beberapa kebudayaan dari Sumatera Barat yang telah memudar diantaranya adalah bahasa minang yang saat ini anak zaman sekarang sudah jarang menggunakannya. Bahkan, ada beberapa anak yang saat ini tidak bisa menggunakan bahasa minang walaupun mereka terlahir dari orang tua asli Minang. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini yaitu lingkungan yang tidak mendukung. Faktor lainnya yaitu anggapan bahwa bahasa lokal ini tidak gaul.

Budaya Minangkabau juga melahirkan banyak etnis alat musik dan lagu. Diantaranya yaitu, alat musik yang khas seperti saluang, talempong, rabab serta bansi. Biasanya keempat dari alat musik ini dimainkan pada saat pesta pernikahan atau biasanya orang Minang menyebut dengan istilah “baralek”. Budaya ini telah memudar di Minangkabau karena saat ini dalam pesta pernikahan banyak sekali yang hanya menggunakan alat musik yang lebih moderen atau band yang terkesan lebih mewah. Padahal, keempat alat musik dari Minangkabau juga menghasilkan suara yang indah dan merdu.

Keeksistensian budaya Minang yang semakin lama semakin memudar ini akan membuat banyak generasi muda yang mulai melupakan budayanya sendiri. Saat ini generasi muda semakin cuek dengan sejarah Minangkabau, tentang segala hal yang unik di dalamnya. Mereka seolah malu dengan budaya yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Generasi muda saat ini lebih tertarik kepada budaya asing yang diimpor dan bangga dengan budaya tersebut. Jika fenomena ini berkelanjutan, bukan tidak mungkin suatu saat budaya di Sumatera Barat akan hilang. Memang, perkembangan zaman tidak bisa dihindari. Namun, Budaya Minangkabau yang diturunkan dari generasi ke generasi merupakan aset yang sangat berharga yang perlu kita lindungi.

Oleh: Dinda Putri Sari Mekah (1910861025)

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

  • Bagikan