Sumbar Dorong Kemandirian Harga Komoditas

Penyelamat Pertumbuhan Ekonomi

Tanaman Kakao di Agam, Sumatera Barat
Tanaman Kakao di Agam, Sumatera Barat

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) optimis mendorong komoditi yang ada di daerah. Hal itu dikatakan Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, Jumat (6/10/2017).

Salah satunya dengan meningkatka perluasan kemandirian pangan, pengembangan industri kakao, karet, dan minyak sawit mentah (CPO) komoditas utama ekspor Sumatra Barat. Pergerakan pertumbuhan ditargetkan di 2018 paling tidak pada angka 6,26 persen. Selain itu, adanya perluasan pembukaan lapangan kerja di sektor pertanian, transportasi, perikanan, industri pengolahan dan kehutanan, itu terjadi di 2018.

“Di 2018 kemungkinan beberapa faktor itu memengaruhi untuk peningkatan pertumbuhan harga komoditas dan menyelematkan ekonomi, dan kami optimis itu bisa tercapai,” kata Wagub Sumbar Nasrul.

Target tersebut telah masuk dalam RAPBD Sumbar dan tugas pemerintah untuk menyokong serapan belanja. Pasaman Barat sebut mantan Bupati Pesisir Selatan ini, bakal salah satu sektor pendukung pergudangan dan transportasi, salah satunya dengan adanya dermaga Teluk Tapang, serta aktifnya di 2018 layanan kereta api menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kabupaten Padangpariaman.

“Komitmen perbaiki penyerapan belanja ya dengan mendorong pengawasan secara berkala, walau saat ini pertumbuhan kita ditopang oleh perbaikan konsumsi pemerintah dan investasi,” ungkap Nasrul Abit.

Laju pertumbuhan Sumbar didorong konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Yang mana realisasi belanja hanya sebesar 2,5 persen. Sementara belanja pegawai mengalami kontraksi 8 persen baik serapan dari APBN dan APBD. Agustus lalu kata Kepala Perwakilan BI Sumatra Barat Endy Dwi Tjahjono, progress perdagang di daerah telah merangkak naik.

Diperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2017 akan berada di kisaran 5,1-5,5 persen (y-o-y). Sebab, belajar dari konsumsi rumah tangga dan ekspor luar negeri hingga kuartal II 2017. Bertenggernya pada kuartal III tahun ini atas dasar permintaan.

“Kinerja transportasi dan pergudangan juga menurun seiring berakhirnya periode pulang basamo. Kondisi ini pulih pada rentang waktu Idul Adha, dimaana proses pengiriman paket,” ujar Endy.

Loading...
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...