Waspada Gelombang Tinggi dan Hujan

Kementan : Tidak Perlu Impor Beras

Ilustrasi cuaca buruk.
Ilustrasi cuaca buruk.

Prakiraan cuaca maritim terhitung tanggal 9-10 Oktober 2017, pukul 19.00 WIB dan pukul 7.00 WIB, berpotensi gelombang dengan tinggi 0.50-1.50 Meter. Itu akan terjadi di daerah perairan Pesisir Barat Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Lansiran prakirawan BMKG Minangkabau, gelombang itu hingga ke Pesisir Barat Kabupaten Pesisir Selatan. Sementara di perairan Pesisir Barat Bengkulu gelombang mencapai tinggi 0.75-3.50 Meter demikian halnya di perairan Barat Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara dan Selatan, Pulau Enggano dan Pulau Sipora,Kepulauan Mentawai. Sementara gelombang dengan tinggi 2.50-4.00 Meter terjadi di daerah Samudra Hindia Barat Kepulauan Mentawai hingga Samudra Hindia Barat Bengkulu.

Sedangkan prakiraan pasang ketinggian 1.2 Meter dan surut ketinggian 0.1 Meter. BMKG mengimbau tetap waspada dan berhati-hati. Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi BMKG Padang Pariaman, Budi Iman Samiaji mengatakan, untuk kondisi cuaca Senin (9/10/2017) awan awan hujan pagi di Mentawai, Perairan Padang dan Mentawai. Meluas di bagian Barat Sumatera Barat seperti Pasaman Barat, Tiku, Kota Pariaman, Kota Padangpariaman, Kab Solok Bagian Barat, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto, Kota Solok, dan kawasan Singkarak.

Tidak hanya Sumbar, sejumlah provinsi mulai memasuki musim hujan di bulan Oktober-November. Petani siap menyemai benih dan mengolah tanah untuk tanam padi pada musim ini, kata Kementerian Pertanian (Kementan) dalam hal ini Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi, Suwandi. Secara tidak langsung bisa menjaga swasembada beras secara berkelanjutan meski sudah memasuki musim tanam Okmar 2017-Maret 2018. Selain itu ditargetka luas tanam padi pada musim Okmar lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya. Luas lahan tanam pada musim Oktober-Maret 2016-2017 mencapai 9,35 juta hektar. Luas tersebut, 596 ribu hektar (6,8 persen) lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya yang hanya 8,76 juta hektar.

“Sentra padi utama antara lain di Provinsi Jatim, Jabar, Jateng, Sulsel, Lampung, Sumsel, Sumut, dan lainnya,” ujar Suwandi.

Sedangkan data luas tanam padi Okmar 2016-2017 dan April-September (Asep) 2017 surplus lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sehingga, dapat dipastikan produksi padi 2017 lebih tinggi dibandingkan sebelumnya dan mampu menjaga swasembada secara berkelanjutan. Walau terhitung Januari 2016 sampai saat ini diketahui bersama Kementan tidak menerbitkan rekomendasi impor beras.

Stok beras di Badan Urusan Logistik (Bulog) sebanyak 1,52 juta ton. Sehingga, stok aman untuk memenuhi kebutuhan beras hingga tujuh bulan ke depan atau April 2018. Ketersediaan beras jauh di atas kebutuhan nasional.

 

Loading...
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...