NasionalPeristiwa

Alat Pendeteksi Covid-19 GeNose Buatan UGM Siap Diproduksi

663
×

Alat Pendeteksi Covid-19 GeNose Buatan UGM Siap Diproduksi

Sebarkan artikel ini

Padang – Para ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat pendeteksi Covid-19 berbasis hembusan nafas “GeNose” dan sudah mendapatkan izin edar. Hal itu membuat GeNose siap diproduksi secara massal dan dipasarkan.

Izin tersebut keluar setelah pihak tim pengembangan GeNose melakukan pengajuan ke Kemenkes RI. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua tim pengembang GeNose, Prof Kuwat Triyana pada hari Kamis 24 Desember 2020.

“Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan luar biasa dari banyak pihak GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar (KEMENKES RI AKD 20401022883) untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kemenkes, dalam membantu penanganan COVID-19 melalui skrining cepat,” katanya melalui keterangan tertulis untuk wartawan, Sabtu 26 Desember 2020.

Selanjutnya GoNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh BIN dan Kemenristek/BRIN akan diserahkan untuk didistribusikan. Mereka berharap agar jumlah GeNose C19 yang masih terbatas ini dapat memberikan dampak maksimal.

Kuwat menyampaikan ada 100 unit batch yang ajkan dilepaskan. “Dengan 100 unit batch pertama yang akan dilepas, kami berharap dapat melakukan 120 tes per alat atau atau totalnya 12 ribu orang sehari,” tuturnya.

“Angka 120 tes per alat itu dari estimasi bahwa setiap tes membutuhkan 3 menit termasuk pengambilan nafas sehingga satu jam dapat mentes 20 orang dan bila efektif alat bekerja selama 6 jam,” imbuh Kuwat.

Harapan ini dapat terwujud bila distribusi GeNose C19 dilakukan tepat sasaran. Contohnya, di bandara, stasiun kereta api, dan tempat keramaian lainnya termasuk di rumah sakit. Termasuk ke BNPB yang dapat mendekati tempat-tempat dengan suspect COVID-19.

“Namun, pada tahap ini tidak memungkinkan pengadaan GeNose C19 untuk keperluan pribadi,” ujarnya.

Kuwat juga menegaskan setelah mendapatkan izin edar GeNose C19 akan segera diproduksi massal. Tim berharap bila ada 1.000 unit kelak maka akan mampu mentes sebanyak 120 ribu orang sehari, dan bila ada 10 ribu unit (sesuai target di akhir bulan Februari 2021) maka Indonesia akan menunjukkan jumlah tes COVID-19 per hari terbanyak di dunia yakni 1,2 juta orang per hari.

“Tentu, bukan hanya angka-angka seperti itu harapan kita semua, namun kemampuan mentes sebanyak itu diharapkan akan menemukan orang-orang terinfeksi COVID-19 tanpa gejala (OTG) dan segera diambil tindakan isolasi atau perawatan sehingga rantai penyebaran COVID-19 dapat segera terputus,” katanya.

Ada lima industri konsorsium telah berkomitmen untuk mendukung, yakni PT. Yogya Presisi Tehnikatama Industri (bagian mekanik), PT. Hikari Solusindo Sukses (elektronik dan sensor), PT. Stechoq Robotika Indonesia (pneumatic), PT. Nanosense Instrument Indonesia (artificial intelligence, elektronik dan after sales), dan PT. Swayasa Prakarsa (assembly, perijinan, standar, QC/QA, bisnis).

“Nantinya biaya tes dengan GeNose C19 cukup murah hanya sekitar Rp15 sampai Rp25 ribu. Hasil tes juga sangat cepat yakni sekitar 2 menit serta tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya,” tuturnya.

“Selain itu, pengambilan sampel tes berupa embusan nafas juga dirasakan lebih nyaman dibanding usap atau swab,” imbuh Kuwat.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.