Kota PadangPolitikRagamSumatera Barat

Edriana: Sumbar Masih Miliki Empat Isu Penting

659
×

Edriana: Sumbar Masih Miliki Empat Isu Penting

Sebarkan artikel ini

PADANG, KABARSUMBAR – Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra, Edriana mengatakan masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) masih memiliki empat permasalahan penting yakni terkait kestabilan harga komoditi pertanian, ketahanan keluarga, penanganan gizi buruk anak dan pemberdayaan di bidang UMKM.

“Empat permasalahan tersebut yakni terkait kestabilan harga komoditi pertanian, ketahanan keluarga, penanganan gizi buruk anak dan pemberdayaan di bidang UMKM,” ujar Edriana yang juga seorang Direktur Program di Women Research Instute (WRI). WRI merupakan lembaga penelitian dan peningkatan kapasitas perempuan.

Hal tersebut kata dia, berdasarkan hasil survey dan sosialisasi ke-11 kabupaten/kota yang ada di Sumbar. Kemudian dirangkum berbagai isu penting yang harus diperjuangkannya apabila lolos ke Senayan nanti.

Dikatakannya, saat melakukan sosialisasi ke Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, sekitar 90 persen masyarakat di sana hidup dan bergantung dari hasil pertanian. Jika tidak ada ketidaksabilan pada harga jual dari hasil tani, maka mereka akan merasa was-was.

“Hal tersebut karena rasa cemas terjadi penurunan harga dari penjualan hasil pertanian mereka. Karena mayoritas masyarakat Sumbar hidup dari hasil pertanian,” ungkap wanita yang kampungnya dari Tanah Datar ini.

“Sumbar harus kembali menjadi lumbung padi dan pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan. Jadi perlu perhatian pemerintah daerah,” kata Edriana.

Selanjutnya, permasalahan ketahanan keluarga menjadi hal penting di Sumbar, terutama ditemukan kasus seks bebas, narkoba, LGBT dan masalah lainnya.

“Ini menjadi hal yang harus diperhatikan di Sumbar, bagaimana keluarga dapat saling menjaga dan memperhatikan anggota keluarga mereka lainnya. Nilai itulah yang saat ini hilang di masyarakat,” ujar dia yang juga seorang aktivis perempuan.

Selain itu lanjutnya, mengenai isu kesehatan, sekitar 7,8 juta anak di Indonesia mengalami gizi buruk atau stunting. Padahal menurutnya, sekitar 10-20 mendatang Indonesia digadangkan memiliki angkatan kerja, serta menghadapi bonus demografi dalam usia produktif.

“Apabila masalah kesehatan di daerah tidak tuntas, makan semakin banyak anak tidak bertumbuhkembang dengan baik, dan tidak bisa bersaing secara global. Apalagi saat ini kita juga menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA),” papar Caleg DPR RI nomor urut tiga (3) ini.

Terakhir, terkait isu tentang pemberdayaan perempuan, terutama menggalakkan kembali UMKM rumahan. Dengan adanya hal tersebut, ibu rumah tangga bisa lebih mandiri untuk mencari tambahan penghasilan keluarga.

“Seperti membuat usaha kue, toko kelontong, dan lainnya. Jadi bisa menambahkan penghasilan keluarga,” ujar lulusan S2 bidang Pemberdayaan Perempuan di Belanda ini.

(Putri Caprita)

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.