Ekonomi

Pupuk Indonesia Jaga Pasokan, Siap Ekspor Urea saat Aman

55
×

Pupuk Indonesia Jaga Pasokan, Siap Ekspor Urea saat Aman

Sebarkan artikel ini
PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen pupuk Urea terbesar di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara dengan total kapasitas produksi pabrik pupuk mencapai 14,6 juta ton per tahun.
PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen pupuk Urea terbesar di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara dengan total kapasitas produksi pabrik pupuk mencapai 14,6 juta ton per tahun.

Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan siap menopang rencana pemerintah membuka peluang ekspor pupuk urea ke pasar global, tanpa mengesampingkan kebutuhan petani dalam negeri yang tetap menjadi prioritas utama.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan perseroan memiliki ketahanan pasokan yang kuat di tengah dinamika geopolitik dunia, terutama untuk komoditas urea. Ia menegaskan ekspor hanya dilakukan bila kebutuhan nasional sudah aman.

“Arahan dari Kementerian Pertanian melalui Pak Wakil Menteri Pertanian sangat jelas. Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri cukup,” kata Rahmad usai mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bertemu Duta Besar India untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Rahmad menyebut posisi Indonesia kini semakin strategis karena termasuk salah satu produsen urea terbesar di dunia. Menurut dia, kondisi disrupsi rantai pasok pupuk global justru membuka ruang bagi Indonesia untuk memainkan peran lebih besar melalui ekspor.

“Di tengah gejolak global, banyak orang selalu berpikir kita pasti rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk kita itu kita tidak rentan, justru malah bisa mengambil posisi sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Karena kita bisa membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” ujar Rahmad.

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan empat negara telah berkomunikasi untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia. Negara-negara tersebut adalah Australia, India, Filipina, dan Brasil, di tengah gangguan distribusi global akibat situasi di Selat Hormuz.

Meski begitu, pemerintah menegaskan kebijakan ekspor akan dilakukan secara hati-hati. Kebutuhan petani dalam negeri, kata Sudaryono, tetap harus terpenuhi terlebih dahulu.

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” kata Wamentan.

Rahmad menegaskan rencana ekspor tidak akan mengganggu pasokan domestik karena perusahaan menghitungnya berdasarkan masa tanam. Pupuk Indonesia, kata dia, hanya mengekspor jika ada penugasan resmi dari pemerintah dan setelah memastikan stok bagi petani aman.

“Nah, kita tidak mungkin akan mengekspor ketika musim tanam. Itu tadi jelas dan Dubes India sudah menyepakati bahwa kita mengekspor di luar musim tanam,” ucap Rahmad.

Pupuk Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi urea 9,4 juta ton per tahun. Jumlah itu lebih tinggi dibanding kebutuhan domestik yang berada di kisaran 6 juta hingga 7 juta ton per tahun.

Kapasitas produksi tersebut ditopang pasokan bahan baku utama berupa gas alam yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harga. Dengan dukungan itu, stok pupuk perusahaan per 14 April 2026 mencapai sekitar 1,2 juta ton, baik subsidi maupun non-subsidi.

“Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup,” kata Rahmad.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan harga pupuk subsidi tetap stabil meski harga pupuk dunia berfluktuasi. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang sudah turun 20 persen pada Oktober 2025 menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keterjangkauan bagi petani.

“Seperti yang sudah ditegaskan oleh Pak Mentan dan Wamentan, HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama. Artinya ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun,” kata dia.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.