Lima Bulan, Pengadilan Agama Kota Solok Tangani 162 Perkara Perceraian

Plt. Ketua Pengadilan Agama Kota Solok, Nursal disela-sela Safari Ramadan di Mesjid Jabal Nur, Tanah Garam, Kota Solok, Senin 21 Mei 2018. Foto : Fernandez
Plt. Ketua Pengadilan Agama Kota Solok, Nursal disela-sela Safari Ramadan di Mesjid Jabal Nur, Tanah Garam, Kota Solok, Senin 21 Mei 2018. Foto : Fernandez
Plt. Ketua Pengadilan Agama Kota Solok, Nursal disela-sela Safari Ramadan di Mesjid Jabal Nur, Tanah Garam, Kota Solok, Senin 21 Mei 2018. Foto : Fernandez
Plt. Ketua Pengadilan Agama Kota Solok, Nursal disela-sela Safari Ramadan di Mesjid Jabal Nur, Tanah Garam, Kota Solok, Senin 21 Mei 2018. Foto : Fernandez

SOLOK, KABARSUMBAR – Dari awal tahun hingga Mei 2018 ini atau dalam kurun waktu lima bulan, kasus perceraian yang ditangani pihak Pengadilan Agama (PA) Kota Solok mencapai 162 perkara.

Bahkan, hampir semua permohonan perceraian diajukan oleh pihak perempuan yang sudah tak sanggup lagi melanjutkan dan mempertahankan bahtera rumah tangga mereka.

Plt. Ketua Pengadilan Agama Kota Solok, Nursal mengatakan, jika sudah ada 162 perkara yang ditangani pihaknya hingga Mei 2018.

“Rata-rata permohonan perceraian berakar dari perselisihan dalam rumah tangga,” kata Nursal disela Safari Ramadan di Masjid Jabal Nur, Tanah Garam, Senin (21/5/2018).

Dijelaskan Nursal, banyak faktor pemicu keretakan rumah yang bermuara pada perceraian di Pengadilan Agama. Mulai dari kecemburuan akibat media sosial, seperti Facebook, Instagram dan lainnya.

“Dari jumlah perkara perceraian itu, 10 persennya diajukan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN), selebihnya diajukan oleh kalangan masyarakat umum,” jelasnya.

Selain dipicu faktor kecemburuan, masih rendahnya pemahaman keluarga muda akan pengetahuan dasar tanggungjawab dalam berumah tangga, diduga juga menjadi faktor banyaknya kasus perceraian di Kota Solok.

Menurutnya, pendidikan pra-nikah perlu dioptimalkan. Pasalnya, tidak hanya cukup sebentar saja, namun perlu pembekalan yang lebih. Alhasil, pasangan yang akan menikah mengerti bagaimana menjalani hidup berumahtangga.

“Kita sudah bicarakan dengan Kantor kemenag kota Solok untuk menginisiasi pendidikan pra nikah yang lebih intensif, kalau sekarang kan cuman sebentar saja,” sebutnya.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar masyarakat, terutama kalangan orang tua, untuk lebih proaktif dalam memberikan pemahaman kepada anak-anaknya agar menikah diusia yang sudah matang dan menghindari pernikahan diusia dini.

“Jangan lagi kita menganggap pendidikan rumah tangga bagi anak usia nikah merupakan sesuatu hal yang tabu, tapi itu menjadi sesuatu yang penting sehingga anak paham sebelum memutuskan berumah tangga,” harapnya.

[Fernandez]