Pemerintah

Tak Terbayang Biaya Cuci Darah Seumur Hidup, Lukman Lega Dilindungi JKN

×

Tak Terbayang Biaya Cuci Darah Seumur Hidup, Lukman Lega Dilindungi JKN

Sebarkan artikel ini

Tanah Datar – Bayangan harus menjalani cuci darah seumur hidup sempat membuat Lukman Arif, warga Kabupaten Tanah Datar, khawatir. Bukan hanya soal kondisi kesehatan, tetapi juga biaya pengobatan yang harus ditanggung dalam jangka panjang. Di tengah kekhawatiran itu, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penopang bagi Lukman untuk menjalani pengobatan tanpa dihantui beban biaya.

Lukman sebelumnya tidak menyangka keluhan sederhana seperti mudah lelah, sering buang air kecil, berkurangnya nafsu makan, hingga berat badan yang terus menurun merupakan tanda masalah kesehatan serius.

Kondisinya yang tidak kunjung membaik membuat keluarga membawanya ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) hingga akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. M. Ali Hanafiah.

“Sebelum tahu menderita gagal ginjal, saya sudah mengidap diabetes hingga jari kaki diamputasi. Gejalanya saya sering merasa lelah, sering buang air kecil, nafsu makan berkurang sampai berat badan turun. Awalnya saya menganggap biasa saja. Setelah diperiksa, ternyata penyakitnya sudah cukup serius,” kata Lukman.

Pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan kadar gula darah Lukman semakin tinggi, akibatnya ia didiagnosis menderita gagal ginjal. Dokter menyampaikan bahwa kerusakan fungsi ginjal yang dialaminya membuat Lukman harus menjalani terapi cuci darah.

Bagi Lukman, diagnosis tersebut menjadi titik balik. Ia mulai menyadari bahwa kesehatan tidak bisa diabaikan, terlebih ketika gejala penyakit sudah muncul.

“Dokter mengatakan ke depannya saya harus rutin cuci darah. Saat mendengar itu, tentu saya khawatir karena saya tahu pengobatannya tidak sebentar dan membutuhkan biaya yang besar. Yang saya dengar, biaya cuci darah saja butuh sekitar Rp800.000 – Rp1.000.000 persesinya dan itu dilakukan dua kali seminggu selama seumur hidup,” ujar Lukman.

Lukman mengatakan jika penyakit kronis yang ia derita sebagai akibat dari pola hidup yang kurang sehat. Ia mengaku dahulu sering mengonsumsi minuman manis dan jarang minum air putih. Ketika gejala mulai dirasakan, ia memilih mengabaikannya sehingga menyebabkan komplikasi.

“Dari pengalaman ini saya belajar, jangan menunggu sakit parah baru memeriksakan diri. Kalau tubuh sudah memberikan tanda, sebaiknya segera diperiksa. Saya dulu mengabaikan gejala dan akhirnya harus menghadapi kondisi seperti sekarang,” tutur Lukman.

Di tengah kondisi tersebut, kepesertaan JKN menjadi salah satu hal yang membuatnya lebih tenang. Sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri, Lukman merasakan manfaat JKN untuk mendukung pengobatan yang dijalaninya, mulai dari perawatan hingga terapi cuci darah ke depannya.

“Bersyukur biaya pengobatan saya sampai hari ini dan ke depannya dijamin JKN. Kalau membayangkan harus membayar sendiri biaya rawat inap, operasi amputasi, sampai cuci darah secara rutin, tentu sangat berat bagi saya,” ungkap Lukman.

Lukman memahami pentingnya menjaga status kepesertaan JKN tetap aktif. Ia mengaku pernah menunggak iuran karena kondisi ekonomi, kemudian baru melunasinya ketika membutuhkan pelayanan kesehatan. Akibatnya, saat menjalani rawat inap, ia dikenakan denda pelayanan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Sekarang saya semakin paham bahwa menjadi peserta JKN saja tidak cukup. Status kepesertaannya pun harus dijaga tetap aktif dengan rutin membayar iuran. Kita tidak pernah tahu kapan akan sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan,” tambah Lukman.

Lukman yang telah menjadi peserta JKN sejak awal program tersebut diluncurkan pemerintah menilai iuran yang dibayarkan setiap bulan sangat terjangkau, terutama bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Bagi masyarakat yang penghasilannya pas-pasan seperti saya dan sudah lanjut usia ini, JKN sangat membantu. Iurannya jauh lebih ringan dibandingkan risiko biaya ketika kita menghadapi penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka panjang,” ucap Lukman.

Bagi Lukman, JKN bukan sekadar kartu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Di tengahperjalanan panjang menghadapi penyakit kronis, JKN menjadi bentuk perlindungan yang membuatnya dapat lebih fokus menjalani pengobatan dan menjaga kualitas hidup.

“Sekarang saya tahu, kesehatan itu tidak bisa ditunda dan perlindungan juga tidak boleh disiapkan saat sudah sakit. Semoga JKN terus berjalan, pelayanannya semakin baik, dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” tutup Lukman. (Ikhlasul Ihsan)

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.