EkonomiKota PadangRagam

Ubah Sampah Jadi ‘Emas Hijau’, Inovasi Maggot Semen Padang Raih Penghargaan Nasional

487
×

Ubah Sampah Jadi ‘Emas Hijau’, Inovasi Maggot Semen Padang Raih Penghargaan Nasional

Sebarkan artikel ini
ubah-sampah-jadi-‘emas-hijau’,-inovasi-maggot-semen-padang-raih-penghargaan-nasional
Ubah Sampah Jadi ‘Emas Hijau’, Inovasi Maggot Semen Padang Raih Penghargaan Nasional

Jakarta – PT Semen Padang meraih penghargaan nasional atas inovasinya mengubah sampah organik menjadi solusi ekonomi sirkular melalui budidaya maggot.

Penghargaan ini diberikan dalam ajang Environmental & Social Innovation Award (ENSIA) 2025 oleh PT Sucofindo.

Inovasi bertajuk “Revolusi Sampah Organik Menjadi Emas Hijau” ini diapresiasi sebagai Paper Inovasi Khusus.

Direktur Keuangan & Umum PT Semen Padang, Iskandar Z Lubis, menerima langsung penghargaan tersebut di Jakarta, Selasa (16/9/2025).

Iskandar Z Lubis menyatakan penghargaan ini menjadi bukti terobosan perusahaan dalam mendukung pemerintah mengatasi masalah sampah, khususnya di Kota Padang.

Inisiatif ini muncul karena keprihatinan terhadap timbunan sampah kota yang mencapai 660 ton per hari, yang sebagian besar adalah sampah organik.

“Model ekonomi sirkular yang kami kembangkan dinilai unggul,” ujar Iskandar. “Program ini mengurangi beban TPA dan menciptakan ekosistem wirausaha sosial baru.”

Program yang dimulai pada 2024 ini memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk mengurai sampah organik.

Proses ini dijalankan oleh KUBE Organic Feed, kelompok masyarakat dampingan PT Semen Padang dan Universitas Andalas.

Sampah organik dari masyarakat dipilah dan diolah menjadi media budidaya maggot.

Maggot yang kaya protein dijual sebagai pakan ternak ikan, sementara residunya (kasgot) menjadi pupuk organik.

Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Idris, menjelaskan siklus ini berputar harmonis, dari sampah menjadi maggot, maggot menjadi pakan, dan sisa pakan menjadi pupuk.

Dalam tiga bulan pertama, KUBE Organic Feed mencatatkan keuntungan bersih Rp12,98 juta. Ini membuktikan solusi lingkungan dapat menjadi penggerak ekonomi lokal.

Iskandar Z Lubis menekankan keberhasilan ini adalah hasil kolaborasi Penta Helix yang melibatkan akademisi, pemerintah, komunitas, media, dan masyarakat. Ia berharap inovasi ini dapat direplikasi di wilayah lain.

“Keberhasilan ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional dalam mewujudkan lingkungan berkelanjutan dan mendorong ekonomi kerakyatan,” tutup Iskandar.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.