Padang – Investasi panas bumi PT Hitay Daya Energi (HDE) di Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, dipastikan berlanjut.
Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar menyatakan perusahaan asal Turki itu tetap berkomitmen melanjutkan proyek, meskipun sempat ditolak warga.
Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi Heriyanto, mengungkapkan HDE telah menjalin komunikasi awal dengan tokoh masyarakat (ninik mamak) di sekitar Gunung Talang, Nagari Batu Bajanjang.
“Sejauh ini, Hitay Daya Energi sudah bisa masuk dan berkomunikasi awal dengan ninik mamak,” ujar Helmi, menekankan pentingnya komunikasi yang baik agar kejadian penolakan tidak terulang.
Helmi mengakui trauma warga akibat bentrokan dengan aparat masih membekas.
Namun, ia tetap optimistis proyek dapat berjalan.
“Kita sudah mendampingi Hitay Daya Energi ke lokasi. Kita ingatkan agar yang datang adalah orang-orang yang dipercaya membangun komunikasi yang baik,” katanya.
Helmi menegaskan HDE tidak menarik diri dari investasi panas bumi di Gunung Talang, yang memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di Sumbar setelah Solok Selatan.
Saat ini, ESDM Sumbar melakukan pemetaan sosial sebelum menawarkan lokasi investasi kepada investor.
Tujuannya adalah pendekatan yang lebih baik kepada masyarakat.
“Lokasi investasi dipetakan dulu potensi sosialnya, sehingga ada pendekatan kepada masyarakat. Setelah clear, baru tawarkan ke investor. Kini ingin merubahnya,” jelas Helmi.
Terdapat tujuh daerah di Sumbar yang memiliki potensi panas bumi.
ESDM Sumbar berencana memetakan kondisi sosialnya pada tahun 2026.
Selain pemetaan sosial, ESDM Sumbar akan melibatkan berbagai pihak, termasuk media, mahasiswa, LSM, perguruan tinggi, lembaga adat, dan perangkat nagari, untuk memberikan edukasi tentang energi panas bumi.
“Panas bumi ini, contohnya di jurnal penelitian dunia, tidak ada masalah. Kita akan rangkul semua pihak agar bisa memberikan informasi positif dan edukatif,” harap Helmi.
ESDM Sumbar juga mendampingi investor baru agar tidak salah langkah.
Proyek HDE di Gunung Talang menargetkan kapasitas awal 20 MW dengan masa eksplorasi empat tahun.
Perusahaan ini telah menginvestasikan Rp1 triliun untuk mengembangkan panas bumi di Sumbar, termasuk di Gunung Talamau dan Gunung Tandikek.
Sebelumnya, penolakan warga terhadap proyek ini sempat memicu bentrokan antara masyarakat dan aparat, yang mengakibatkan tujuh warga menjadi korban kekerasan.






