Padang – Ikatan emosional antara perantau Minang dan kampung halaman kembali menunjukkan kekuatan sosial yang signifikan.
Di tengah masa pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang menimpa Kota Padang, dukungan moral dan materi terus mengalir dari berbagai penjuru, termasuk kontribusi dari Ikatan Keluarga Padang Kota (IKPK) di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, menyambut rombongan perantau di Posko Tanggap Darurat Bencana Kota Padang.
Mereka hadir dengan misi kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara yang terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor.
Ketua IKPK Batam, Joni Nazir, menyatakan duka cita mendalam atas musibah yang menimpa warga Padang dan menegaskan bantuan yang diserahkan adalah simbol kepedulian dan solidaritas tanpa batas jarak.
“Alhamdulillah, hari ini kita menyalurkan 400 paket kebutuhan dasar dari Ikatan Keluarga Sumatra Barat (IKSB) Kota Batam ke Pemko Padang. Selain itu, kami memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp75 juta yang akan disalurkan ke empat kecamatan terdampak di Padang,” ungkap Joni Nazir.
Maigus mengapresiasi bantuan tersebut dan menganggap kehadiran perantau sebagai sumber energi tambahan bagi pemerintah dan masyarakat dalam bangkit dari keterpurukan.
“Terima kasih kepada IKSB dan keluarga besar IKPK Kota Batam yang menyalurkan bantuan hari ini,” kata Maigus.
Maigus juga menjelaskan perkembangan penanganan pascabencana.
Saat ini, Pemerintah Kota Padang tengah memfinalisasi data kerusakan infrastruktur dan permukiman warga serta merencanakan langkah strategis jangka panjang, termasuk relokasi bagi korban yang kehilangan tempat tinggal.
“Kita sedang mengupayakan perbaikan rumah warga dan infrastruktur yang terdampak. Kami juga menyiapkan lahan untuk pembangunan 500 Hunian Tetap (Huntap) bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hanyut akibat bencana,” jelas Maigus.
Urgensi pembangunan Huntap sejalan dengan data mutakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang per 19 Desember 2025.
Kerusakan akibat bencana tercatat masif, dengan 193 rumah hanyut, 433 rumah rusak berat, 2.060 rumah rusak sedang, dan 2.890 rumah mengalami kerusakan ringan.
Selain itu, bencana ini mengakibatkan 11 orang meninggal, dua orang masih dinyatakan hilang, dan 102 jiwa masih bertahan di pengungsian karena kehilangan tempat tinggal.






