Pemerintah

Irigasi Pertanian Pascabencana, Rahmat Saleh : Sumbar Butuh Rp 2 Triliun Pascabencana

245
×

Irigasi Pertanian Pascabencana, Rahmat Saleh : Sumbar Butuh Rp 2 Triliun Pascabencana

Sebarkan artikel ini

Rahmat menegaskan, pemulihan irigasi bukan sekadar masalah teknis, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat Sumbar yang berprofesi sebagai petani.

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS, Rahmat Saleh. Foto : Istimewa
Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS, Rahmat Saleh. Foto : Istimewa

Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menempatkan pemulihan sistem irigasi di Sumatera Barat (Sumbar) sebagai prioritas utama pasca-bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut.

Komitmen ini diungkapkan oleh Anggota Komisi IV DPR RI Rahmat Saleh pada pembukaan Masa Sidang III Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Rahmat menegaskan, pemulihan irigasi bukan sekadar masalah teknis, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat Sumbar yang berprofesi sebagai petani.

Kerusakan parah pada infrastruktur irigasi mengancam produktivitas pertanian, keberlanjutan ekonomi petani, dan stabilitas pasokan komoditas pangan nasional.

Mengingat peran strategis Sumbar sebagai salah satu daerah penyangga pangan, terutama beras, pemulihan irigasi menjadi krusial.

“Pemulihan Sumbar pasca-bencana, fondasinya adalah irigasi. Kalau irigasinya tidak beres, produktivitas petani akan terus menurun dan menghantam seluruh sendi ekonomi daerah,” tegas Rahmat.

Estimasi awal menunjukkan kebutuhan anggaran untuk memulihkan irigasi di Sumbar mencapai Rp2 triliun.

Rahmat menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan alokasi anggaran tersebut dalam pembahasan APBN.

Selain itu, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian, terutama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, untuk memastikan program pemulihan berjalan efektif.

“Saya akan mendorong di Komisi IV agar pemulihan irigasi Sumbar menjadi prioritas utama dalam pembahasan anggaran. Koordinasi antar kementerian juga sangat penting,” jelasnya.

Rahmat juga mengingatkan Sumbar selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung beras utama di wilayah barat Indonesia dan pemasok berbagai komoditas pertanian ke berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga peran strategis ini.

Lebih lanjut, Rahmat menyarankan agar pemerintah daerah dan kelompok tani dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan pemulihan irigasi.

Ia mengingatkan bahwa pendekatan top-down tanpa memahami realitas di lapangan berpotensi menghasilkan pembangunan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Partisipasi aktif dari semua pihak sangat penting untuk memastikan program pemulihan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Selain irigasi, Rahmat juga menyoroti pentingnya pemulihan sektor pertanian secara komprehensif, termasuk perbaikan akses jalan produksi, ketersediaan benih berkualitas, dan perlindungan terhadap risiko gagal panen.

“Komitmen kami jelas, pemulihan Sumbar tidak boleh setengah-setengah. Irigasi harus pulih, pertanian harus bangkit, dan ekonomi masyarakat harus kembali menggeliat,” pungkasnya.

Dengan pemulihan irigasi yang efektif, diharapkan sektor pertanian Sumbar yang sempat terpuruk akibat bencana dapat kembali bangkit dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.