Aceh – Pemerintah pusat mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Tanah Gayo, Aceh, melalui kunjungan kerja intensif tiga menteri dalam sepekan terakhir.
Langkah terpadu ini menyasar pemulihan infrastruktur vital, stabilitas ekonomi, serta penguatan sektor pertanian di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.
Tanah Gayo merupakan urat nadi ekonomi Aceh sekaligus produsen utama Kopi Gayo yang memiliki reputasi global.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Muhammad Tito Karnavian, mengawali rangkaian aksi ini dengan meninjau Bener Meriah pada 7 Juli 2026.
Tito memimpin dialog strategis bersama pemerintah daerah untuk merumuskan solusi permanen atas kerusakan Jembatan Enang-Enang guna menjamin keselamatan warga.
Sehari berselang, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau langsung lokasi untuk memastikan penguatan struktur jembatan agar tetap dapat dilalui selama masa transisi.
Kementerian PU saat ini tengah mempercepat pelebaran Jalan Werlah sebagai jalur alternatif sekaligus merancang pembangunan jembatan permanen baru.
“Tugas kita memberikan dukungan maksimal agar upaya yang sudah dikerjakan masyarakat tidak menjadi sia-sia,” ujar Dody saat peninjauan.
Sektor ekonomi kerakyatan turut menjadi fokus pemerintah melalui kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Desa Rimba Raya, Bener Meriah, pada 14 Juli 2026.
Dalam lawatan tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan 10,2 juta bibit kopi, kakao, dan kelapa bagi petani di tiga kabupaten tersebut.
“Kita bangun Aceh dan sejahterakan petani lewat Kopi Gayo yang sudah mendunia,” tegas Amran.
Amran menambahkan, pemerintah kini fokus mendorong produktivitas guna mendongkrak volume ekspor komoditas unggulan tersebut.
Tito Karnavian menjelaskan bahwa kehadiran para menteri merupakan bagian dari kerja terpadu pemerintah pusat untuk memulihkan Aceh secara komprehensif.
Ia menekankan bahwa pemulihan tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh seluruh aspek, mulai dari aksesibilitas hingga kesejahteraan petani.
“Tiga menteri ke Tanah Gayo dalam waktu seminggu adalah bentuk keseriusan pemerintah pusat untuk pemulihan Aceh,” pungkas Tito.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat normalisasi kehidupan masyarakat sekaligus mengembalikan Tanah Gayo sebagai motor penggerak ekonomi yang tangguh di Aceh.






