Padang – Pemerintah di bawah komando Presiden Prabowo Subianto berkomitmen penuh mengakselerasi pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat.
Langkah ini bukan sekadar mengejar target pertumbuhan ekonomi semata, melainkan dirancang sebagai fondasi kokoh untuk menciptakan keadilan ekonomi yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan visi tersebut saat meresmikan reaktivasi jalur kereta api Sumatera Barat di Stasiun Kayu Tanam, Selasa (27/10/2026).
Dony menekankan bahwa setiap proyek strategis yang digulirkan pemerintah harus memiliki perencanaan matang agar manfaatnya tidak terkonsentrasi pada segelintir kelompok, melainkan dirasakan secara merata oleh masyarakat luas.
“Pemerintah Bapak Presiden Prabowo menginginkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang fundamental. Kami tidak ingin kemajuan ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja,” ujar Dony di hadapan warga setempat.
Lebih lanjut, Dony memaparkan bahwa visi pembangunan nasional saat ini bersandar pada tiga pilar utama, yakni penguatan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan ketahanan energi.
Ketiga elemen tersebut dipandang sebagai syarat mutlak bagi Indonesia untuk bertransformasi menjadi negara maju dengan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Dalam kerangka tersebut, infrastruktur menempati posisi vital sebagai katalisator konektivitas.
Dengan aksesibilitas yang memadai, aktivitas ekonomi di berbagai daerah diharapkan lebih dinamis, sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih lebar bagi masyarakat dalam roda pembangunan nasional.
Selain sektor fisik, pemerintah juga menaruh atensi besar pada pengembangan kualitas manusia.
Dony menyoroti keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah konkret dalam menekan prevalensi stunting.
Selain itu, program Sekolah Rakyat turut digulirkan untuk menjamin akses pendidikan yang setara bagi kelompok masyarakat kurang mampu.
“Negara yang maju dan berkelanjutan harus memiliki basis ekonomi yang kuat secara fundamental,” tegas Dony.
Menanggapi potensi tantangan dalam pelaksanaan program di lapangan, Dony menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap masukan dan kritik masyarakat.
Ia membedakan antara visi mulia kebijakan dengan hambatan teknis yang mungkin muncul saat implementasi. Menurutnya, kendala di lapangan adalah hal yang lumrah dan harus terus diperbaiki secara berkelanjutan.
“Jika dalam implementasinya masih ditemukan kendala, itu adalah hal berbeda yang harus kita perbaiki dari waktu ke waktu,” tambahnya.
Melalui sinergi antara pembangunan infrastruktur yang masif dan investasi pada sumber daya manusia, pemerintah berharap Sumatera Barat dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh.
Strategi ini merupakan bagian dari cetak biru besar pemerintah dalam menjaga keberlanjutan ekonomi nasional di masa depan.






