BNPT-FKPT Deklarasikan Anti Radikalisme dan Hoax dengan Penyuluh Agama Kota Solok

Badan Nasional Penanggulangan terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menangkal radikalisme di Hotel Taufina Kota Solok, Rabu (24/4/2018)
Badan Nasional Penanggulangan terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menangkal radikalisme di Hotel Taufina Kota Solok, Rabu (24/4/2018). Foto : Fernandez
Badan Nasional Penanggulangan terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menangkal radikalisme di Hotel Taufina Kota Solok, Rabu (24/4/2018)
Badan Nasional Penanggulangan terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menangkal radikalisme di Hotel Taufina Kota Solok, Rabu (24/4/2018). Foto : Fernandez

Para Penyuluh Agama di Kabupaten dan Kota menjadi salah satu tokoh kunci yang akan membantu mewujudkan terkendalinya sikap radikal.

Sikap radikal, pada hakekatnya biasa saja tetapi paham radikal yang menjadi radikalisme bisa merusak tatanan masyarakat yang mestinya tentram dan damai. Radikalisme bisa berujung pada terorisme.

Untuk itu pihak Badan Nasional Penanggulangan terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menangkal radikalisme di Hotel Taufina Kota Solok, Rabu (24/4/2018).

Kegiatan ini diikuti oleh 110 penyuluh dari semua agama di Kota Solok. Kegiatan ini merupakan salah satu dari lima kegiatan yang dilaksanakan oleh FKPT Sumbar sepanjang tahun 2018.

“Penyuluh agama merupakan pilihan yang tepat bagi BNPT menumpangkan harapan dalam mencegah dan menangkal bahaya radikalisme dan terorisme ditengah masyarakat,karena para penyuluh berhadapan langsung face to face dengan masyarakatnya,” kata Kepala Bagian Data dan Pelaporan BNPT, Dr. Muslih Nashoha, M.A.

Senada, Ketua FKPT Sumbar Dr. Zaim Rais menyebutkan, upaya melakukan deradikalisasi ini tidak mungkin hanya dilakukan oleh BNPT dan FKPT saja, melainkan memerlukan sinergi antar elemen dan bahkan antar institusi.

“Maka oleh sebab itu pada setiap kelompok masyarakat yang sudah mengikuti kegiatan serupa bisa menjadi relawan baru untuk mengajak masyarakat menjauhi radikalisme yang bisa menjadi pemicu terorisme itu sendiri,” kata Zaim.

Sementara itu , kegiatan yang bertemakan Ayat-Ayat damai in berlangsung sehari penuh dengan menghadirkan para pembicara antara lain Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Drs. Khoirudin, Guru Besar UIN Sumatera Utara Prof. Syahrin Harahap dan Kakanwil Kemenag Sumatera Barat.

Dalam kesempatan itu juga dilaksanakan deklarasi Penyuluh Agama Islam Anti Radikalisme dan Hoax yang mana ini adalah yang pertama kali dilaksanakan di Sumatera Barat bahkan di Indonesia Yang ditanda tangani oleh direktur penerangan islam Kemenag RI dan penyuluh agama se kota solok juga unsur Forkompinda dan juga ormas dikota solok.

“Ini sebagai bentuk komitmen semua dalam menjaga dan mengawal kesatuan dan keutuhan bangsa,” kata Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Solok, Afrizen.

Sementara itu, Guru Besar UIN Sumatera Utara Prof. Syahrin Harahap mengatakan, soal bahaya radikalisme di tengah masyarakat. Menurut dia ada lima ciri paham radikal, yaitu berpikiran sempit, fundamentalis, eksklusivisme dan bersikap keras, dan selalu cenderung korektif atas paham orang lain.

“Ciri-ciri ini harus mampu dipahami oleh para penyuluh bahkan tokoh agama, agar bisa mencegah tumbuhnya benih-benih radikalisme di masing-masing agama,” kata Syahrin.

[Fernandez]