Ini Penyebab Refocusing Pembangunan Jalan Tol Padang-Pekanbaru

  • Bagikan
Foto : internet

Padang – Karena lambatnya progres pembebasan lahan seksi I pada sta 4,2-36,6 oleh sebab itu, pihak PT. Hutama Karya Project Director Jalan Tol Padang-Sicincin Marthen Robert Singal mengatakan mengalihkan sumber dayanya ke pembangunan jalan tol lainnya (refocusing), dan dialihkan sementara pada ruas tol lain yang lebih siap.

“Jika pembebasan lahan yang kini terus diusahakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembebasan Lahan dan proses administasinya diselesaikan oleh Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumbar hingga Juni 2021 mendatang, maka pengerjaan otomatis akan dilanjutkan hingga tuntas 2022,” ujar Marthen pada Minggu, 7 Maret 2021 sore di Hotel Mercure Padang.

Ia mengatakan, untuk dana pembebasan lahan sebesar Rp 204 miliar sudah dikembalikan ke pusat, karena tidak selesainya urusan pembebasan lahan yang terkena jalur jalan tol Padang-Pekanbaru.

“Syukur, tahun ini dianggarkan lagi Rp 200 miliar.Moga dana ini bisa dihabiskan untuk membayar ganti rugi lahan masyarakat sehingga pengerjaan bisa dilanjutkan,” ungkap Marthen saat bincang-bincang sore dengan sejumlah awak media.

Marthen mengakui, saat ini pihaknya fokus untuk menyelesaikan pengerjaan jalan tol hingga KM 6 atau STA 6+300 tepatnya di bengkolan dekat Rumah Makan Lamun Ombak, Kenagarian Kasang, Padang Pariaman. Karena di batas itu lahan yang betul-betul tuntas pembebasannya. Apabila pembebasan lahan untuk selanjutnya selesai, pembangunan pada daerah Padang-Sicincin sejauh 36 Km diyakini akan kembali bisa dilanjutkan.

“Dalam kasus jalan tol Padang Sicincin, daya serap anggaran relatif tinggi, sementara hasil pekerjaan yang dicapai selama tiga tahun baru mencapai 4,6 Km. Hingga saat ini, total lahan yang berhasil dibebaskan baru mencapai 20 persen dari panjang keseluruhan jalan tol 36 Km,” ujar Marthen

Pihaknya mengambil kebijakan refocusingnkarena apabila aset tetap dipertahankan di Sumbar, perusahaan akan rugi besar karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan sementara progres pekerjaan tidak ada. Oleh sebab itu, dana yang tersedia juga dialihkan dulu ke lokasi lain, seperti pengerjaan jalan tol Pekanbaru-Bangkinang dan ruas lainnya di ruas tol Trans Sumatera.

“Karena percepatan pekerjaan ruas tol di sana relatif tinggi, maka sumberdaya PT Hutama Karya dari jalan tol Padang Sicincin kita pakaikan dulu ke sana,” kata Marthen.

Ia juga sangat berharap adanya dorongan yang kuat dari pemerintah daerah sehingga proses administrasi lahan bisa cepat selesai. Pasalnya, saat ini sudah sangat proporsional menghargai lahan milik masyarakat. Dengan harga pada penlok 1 harga ganti rugi yang dipatok hanya Rp.30 ribu per meter persegi, kini harga ganti rugi terendah jauh lebih lebih tinggi yakni Rp.150 ribu per meter.

“Karena itu, di setiap pertemuan tak ada penolakan dari masyarakat pemilik lahan, karena sekarang sudah ganti untung, bukan lagi namanya ganti rugi. Tinggal lagi, bagaimana percepatan penyelesaian administrasinya. Baik di tingkat kepala jorong, wali nagari dan KAN hingga di badan pertanahan. Karena, PT HK ingin proses administrasinya benar-benar tuntas agar tak ada gugatan di kemudian hari,” ungkapnya.

  • Bagikan