Mentri PPN/Bappenas: Sumatera Berpotensi Rebut Porsi Pertumbuhan Ekonomi dari Jawa

Foto: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro. (Putri Caprita)

 

PADANG, KABARSUMBAR – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan sebagai penyumbang ekonomi terkuat kedua di Indonesia Sumatera bisa berpotensi merebut porsi pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) secara nasional dari Jawa.

Dikatakannya, hingga saat ini Sumatera masih menyumbangkan sekitar 20 persen dari PDB nasional, di bawah Jawa dengan angka kontribusi 58 persen. Sehingga kedua provinsi tersebut berkontribusi nyaris hampir 80 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Saya yakin Sumatera dapat memberikan kontribusi paling besar dan mempunyai potensi lebih kuat untuk bisa tumbuh cepat. Hal Itulah yang orang bilang kesenjangan Jawa dan luar Jawa, antara barat dan timur. Bagian barat ini Jawa, Sumatera dan Bali,” kata Bambang Brodjonegoro di Kantor Gubernur Sumbar, Jumat (23/11/2018).

Bambang melihat, ke depannya hingga 2045 mendatang sumbangan pertumbuhan ekonomi dari Pulau Jawa perlahan akan berkurang menuju 50 persen. Hal ini seiring dengan pembangunan infrastruktur yang cukup masif dilakukan di Luar Jawa, dan hilirisasi industri perkebunan dan pertambangan yang terus berkembang.

Selain itu pada tahun mendatang Pulau Sumatera berpotensi merebut 8 persen sumbangan porsi PDB dari Pulau Jawa dengan Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), dan infrastruktur yang ada. Sumatera bisa tumbuh lebih cepat, dengan cara menurunkan kontribusi Jawa dari 58 persen.

“Tentunya ketika porsi Jawa berkurang, Sumateralah yang akan mendapat limpahan terbesar. Relokasi pembangunan dari Jawa yang paling logis adalah Sumatera,” jelas Bambang.

Pihaknya menyebutkan, sejak 2001 lalu pemerintah sudah berupaya melakukan desentralisasi pembangunan dari Pulau Jawa ke luar Jawa. Saat itu, Jawa menyumbang porsi PDB sebesar 56 persen dari angka nasional. Namun setelah 17 tahun berjalan, Pulau Jawa justru menyumbang porsi PDB lebih banyak yakni 58 persen.

“Kenapa porsi Jawa masih tinggi? Karena desentralisasi ekonomi belum terjadi. Kegiatan ekonomi masih terpusat di Jawa dan kegiatan ekonomi lokal belum tumbuh,” ujar Bambang.

Kegiatan ekonomi lokal yang dimaksudnya harus bersumber dari kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah daerah.

Menurutnya, Pemda memiliki pengetahuan sendiri untuk memilih potensi ekonomi mana yang bisa dikembangkan. Hal ini berkaitan dengan sektor konsumsi yang masih menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di daerah.

“Artinya menjaga daya beli terutama adalah menjaga inflasi. Makanya pemerintah selalu berusaha melakukan pemantauan inflasi daerah,”ungkapnya.

Ekonomi Sumbar sendiri pernah mengalami commodity booming dengan harga komoditas sawit dan karet yang sempat melonjak tinggi. Namun kondisinya berubah drastis setelah harga CPO dan karet melorot tajam.

Sumbar menjadi salah satu contoh provinsi yang belum melakukan diversifikasi industri, sehingga dinamika harga komoditas unggulannya langsung berimbas pada perekonomian daerah.

“Saat ini Sumatera sedang dalam tahap recovery. Karena pertumbuhan Sumatera sempat tinggi di 2010-2013 karena commodity boom. Nah, bergantung pada komoditas tidak akan menciptakan stabilitas,” tutupnya.

(Putri Caprita)

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.