Padang – Pemerintah Kota (Pemko) Padang bergerak cepat mengatasi masalah air bersih pascabencana dengan menggandeng Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Barat.
Kerja sama ini difokuskan untuk mencari solusi jangka pendek bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan perpipaan air bersih.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, menegaskan pemulihan infrastruktur dasar, terutama air bersih, menjadi prioritas utama.
“Bagi masyarakat yang belum terjangkau jaringan PDAM, kita harus menyiapkan alternatif solusinya,” ujar Fadly saat bertemu dengan Kepala BPBPK Sumbar, Maria Doeni Isa, Rabu (21/1/2026).
Pemko Padang berencana membangun sumur bor atau sumur komunal sebagai solusi cepat.
Setidaknya 228 titik sumur bor dibutuhkan di empat kecamatan terdampak, yaitu Kuranji (36 titik), Koto Tangah (107 titik), Pauh (48 titik), dan Nanggalo (37 titik).
Kepala BPBPK Sumbar, Maria Doeni Isa, menyatakan komitmennya mendukung penuh upaya Pemko Padang.
Maria menawarkan dua skema teknis, yaitu pemasangan pipa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) darurat atau pembangunan sumur bor terintegrasi.
“Pembangunan sumur bor dengan sistem penampungan (toren), seperti yang sudah kami lakukan di Padang Pariaman. Ini solusi yang bisa kami bantu,” jelas Maria.
Bantuan infrastruktur ini akan diberikan dalam bentuk paket lengkap, termasuk sistem penampungan air dan sumber energi penggerak pompa.
Maria menekankan pentingnya ketersediaan lahan yang “clean and clear” serta kejelasan pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan fasilitas.
“Untuk itu kami minta kepada Pemko Padang untuk menyiapkan lahannya. Lahan harus bersih dan jelas, serta harus ditetapkan sejak awal siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaannya,” pungkas Maria.
Sinergi ini diharapkan menjadi solusi cepat bagi warga yang kesulitan mengakses air bersih pascabencana.






