Limapuluh Kota – Satu kawasan pemukiman di Jorong Aie Angek, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, tidak dapat lagi ditempati setelah mengalami likuifaksi tanah akibat curah hujan tinggi pada akhir pekan lalu.
Sebanyak 149 kepala keluarga terpaksa diungsikan ke lokasi aman, sementara 56 unit rumah warga dinyatakan rusak berat dan tidak layak huni.
Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha, mengungkapkan bahwa bencana alam beberapa hari terakhir berdampak pada delapan kecamatan. Namun, tiga kecamatan mengalami dampak paling berat, terutama karena kerusakan yang langsung mengenai permukiman warga.
“Ada delapan kecamatan yang terdampak bencana. Namun yang terparah ada di Kecamatan Gunung Omeh, Kecamatan Bukit Barisan, dan Kecamatan Suliki,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan di tiga kecamatan tersebut berkaitan langsung dengan rumah dan lahan warga, sehingga penanganan darurat diprioritaskan pada keselamatan jiwa dan kebutuhan dasar masyarakat.
“Terhadap ketiga kecamatan ini, kita sudah menjalankan SOP tanggap darurat. Prioritas pertama adalah keselamatan warga. Mereka sudah kita evakuasi, karena ada satu jorong di Aie Angek yang sudah tidak bisa ditempati lagi,” tegasnya.
Untuk saat ini, Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana di Kabupaten Limapuluh Kota pasca terjadinya berbagai bencana di daerah itu, diantaranya bencana banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem di daerah itu. Penetapan itu dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Limapuluh Kota Nomor : 300.2.3/BUP-LK/XI/2025 tanggal 25 November tahun 2025.
Status tanggap darurat bencana itu diberlakukan selama 14 hari terhitung 25 November hingga 8 Desember 2025 dan dapat diperpanjang dan atau diubah sesuai kebutuhan penyelenggaraan penanganan darurat bencana di lapangan.
Para pengungsi kini ditampung sementara di Masjid Kenangan, yang ditetapkan sebagai lokasi pengungsian utama. Pemerintah daerah, melalui anggaran darurat serta bantuan dari sejumlah donatur, menanggung penuh kebutuhan pangan dan logistik bagi warga yang terdampak.
Wabup Ahlul menjelaskan bahwa pergerakan tanah di Jorong Aie Angek dipicu oleh tiga faktor utama, yakni kondisi geologi, curah hujan tinggi, dan topografi perbukitan.
“Secara geologi, tanah di daerah itu memang setiap tahun bergerak. Ditambah curah hujan yang tinggi dan kondisi topografi berupa perbukitan, air hujan sangat memengaruhi kestabilan tanah. Itu menyebabkan pergerakan tanah hingga rumah warga retak dan mengalami dislokasi signifikan,” jelasnya.
Dari hasil tinjauan dan asesmen pemerintah daerah, kawasan terdampak telah dinyatakan tidak layak huni. Pemerintah kini tengah mengumpulkan data untuk dimasukkan ke dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, termasuk rencana relokasi bagi warga yang sudah menyatakan bersedia dipindahkan.
“Alhamdulillah sejak awal kita sudah turun ke lapangan, dan masyarakat bisa kita antisipasi sehingga tidak ada korban jiwa,” tambah Wabup.
Karena Masjid Kenangan dinilai lebih representatif, lokasi penampungan warga dipusatkan di sana. Pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk terus memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi hingga proses relokasi dan rehabilitasi dapat dilaksanakan. (Ikhlasul Ihsan)






