Pemerintah

Rahmat Saleh: PT DSI Harus Beri Dampak Nyata bagi Petani

89
×

Rahmat Saleh: PT DSI Harus Beri Dampak Nyata bagi Petani

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS, Rahmat Saleh. Foto : Istimewa
Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS, Rahmat Saleh. Foto : Istimewa

Jakarta – Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Rahmat Saleh, memberikan dukungan penuh terhadap pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) sebagai pengelola ekspor satu pintu untuk komoditas strategis nasional.

Meski menyambut positif langkah pemerintah tersebut, Rahmat menekankan keberhasilan perusahaan pelat merah ini tidak boleh hanya diukur dari angka ekspor, melainkan harus mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat luas.

Rahmat menilai, selama ini Indonesia kerap dirugikan oleh mekanisme pasar global yang membuat keuntungan komoditas unggulan, seperti sawit dan nikel, lebih banyak dinikmati oleh pihak asing.

Padahal, Indonesia merupakan produsen utama yang seharusnya memiliki kendali penuh atas harga dan tata niaganya.

“Saya mendukung kebijakan Presiden terkait ekspor satu pintu melalui PT DSI. Sudah saatnya kita berhenti menjadi objek yang harganya ditentukan pihak luar. Kita punya sawit dan nikel, maka kita yang harus memegang kendali,” ujar Rahmat di Jakarta, Senin (2/6/2026).

Menurut Rahmat, kebijakan ini merupakan langkah krusial untuk memutus rantai ketergantungan pada mekanisme pasar internasional yang tidak adil.

Sebagai anggota legislatif, ia berkomitmen untuk terus mengawal operasional PT DSI agar benar-benar berpihak pada kepentingan nasional.

Namun, Rahmat memberikan catatan kritis. Ia menegaskan bahwa PT DSI tidak boleh sekadar menjadi entitas administratif yang mengurus ekspor.

Kehadiran perusahaan ini harus menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) Indonesia.

Dampak positifnya harus dirasakan langsung oleh para petani dan pelaku usaha lokal yang selama ini menjadi ujung tombak rantai produksi.

“Keberhasilan PT DSI jangan hanya dilihat dari besaran penerimaan negara. Tolok ukur utamanya adalah kesejahteraan masyarakat, terutama petani yang selama ini rentan terhadap fluktuasi harga,” tegasnya.

Sebagai contoh, Rahmat menyoroti kondisi memprihatinkan yang dialami petani sawit di Sumatera Barat. Baru-baru ini, harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani dilaporkan anjlok hingga Rp600 per kilogram dari harga normal.

Ia mendesak pemerintah dan BUMN terkait untuk segera melakukan intervensi guna menstabilkan harga agar petani tidak terus merugi.

PT DSI sendiri diproyeksikan menjadi BUMN baru yang mengonsolidasikan ekspor komoditas strategis.

Pada tahap awal, perusahaan ini akan memfokuskan operasionalnya pada sektor kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi (ferro alloys).

Rahmat berharap, melalui mekanisme satu pintu ini, tata kelola ekspor nasional menjadi lebih transparan, efisien, dan yang terpenting, mampu mengembalikan keuntungan SDA Indonesia ke tangan rakyat.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.