Dulu Tukang Cuci Piring, Kini Haji Bustamam Miliki 100 Restoran

Tahu Hidup Susah, Jangan Pernah Remehkan Karyawan

Foto Bersama usai diskusi bersama Owner Restoran Sederhana Haji Bustamam di kediamannya di Lintau, Kabupaten Tanah Datar. Foto : Hijrah Adi Sukrial
Foto Bersama usai diskusi bersama Owner Restoran Sederhana Haji Bustamam di kediamannya di Lintau, Kabupaten Tanah Datar. 

Pendidikannya hanya sampai kelas 2 Sekolah Rakyat (SR), namun sekarang Haji Bustamam sekarang menjadi owner Rumah Makan dan Restoran Sederhana yang memiliki setidaknya 100 cabang di kota-kota besar di Indonesia dan Negara tetangga. Bagaimana perjuangannya membangun usaha?

Rabu (13/6/2018), puluhan bus dijadwalkan akan memasuki Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Bus itu mengangkut rombongan pulang basamo RM Sederhana Group. Berbagai acara pun sudah dirancang untuk menyambut rombongan ini.

Salah satunya adalah penayangan video perjuangan Haji Bustamam membangun RM Sederhana yang akan dilaksanakan pada 16 Juni 2018 mendatang. Ada juga acara hiburan rakyat, acara kim, bakti sosial dan kegiatan lainnya. Pada awal tahun 2014 lalu, Pemimpin Redaksi KABARSUMBAR berkesempatan berbincang dengan Haji Bustamam tentang perjuangannya membangun usaha dari nol. Berikut ringkasannya.

“Orang yang bisa sukses adalah orang susah yang menyadari kesusahannya, dan mau berbuat untuk mengubah hidup. Kalau orang sudah tidak sadar susah, dia tidak akan berusaha. Atau, orang yang sadar susah, namun tidak mau berusaha, juga tidak bisa sukses,” ujar Haji Bustamam ketika ditanya apa kunci kesuksesannya.

Haji Bustamam memaparkan, sebelum memulai usaha rumah makan, sudah berbagai pekerjaan dilakoninya untuk menyambung hidup. Dia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring dan pelayan di rumah sakit.

Suatu ketika, ketika dia bekerja di toko sembako di Jambi, dia pergi makan ke rumah makan dan menyadari bahwa kedai nasi selalu ramai dikunjungi orang. Melihat itu, dia berdoa dalam hati. “Ya Allah, kapan saya bisa hidup sukses seperti itu,” doa Haji Bustamam dalam hati ketika itu.

Sejak itu, dia memiliki tekad untuk bisa berjualan secara mandiri. Bustamam kemudian merantau ke Jakarta. Pria asal Nagari Lubuk Jantan, Kecamatan Lintau Buo Utara ini memulai usaha sendiri menjadi pedagang rokok memakai gerobak di kawasan Matraman. Karena permasalahan perantau Minang yang bentrok dengan warga setempat, Bustamam pindah ke Pejompongan.

“Akhir tahun 1971 itu, hidup semakin susah. Jualan tidak berkembang, hanya bisa untuk bertahan. Coba yang lain, juga tidak berhasil. Akhirnya saya bersama istri memutuskan untuk jualan nasi,” jelasnya.

Bustamam pun mulai mencari tempat jualan. Sadar tidak mampu menyewa tempat mewah, dia mendekati tokoh pemuda atau yang dikenal sebagai preman di Bendungan Ilir dan dapat menyewa tempat di emperan dengan harga Rp 3 ribu ketika itu.

“Ternyata dua bulan pertama, jualan saya belum laris. Bahkan, saya harus mendorong gerobak ke Senayan, saat itu ada final Sea Games Indonesia lawan Myanmar. Karena tidak tahu, kami jual nasi dengan harga yang sama. Sementara yang lainnya jual dengan harga lebih mahal. Tentu saja dalam sekejap nasi kami sudah habis,” kenangnya.

Jualan selama 4 bulan, cobaan lainnya datang ke Bustamam dan istrinya. Ketika itu ada penertiban dari trantib. Setiap orang hanya diberi ruang semeter untuk jualan. Sementara untuk dapat tempat harus diundi dulu.

Bustamam pun menyiasati lagi. Dia menemui pihak terkait agar dapat tempat yang strategis tanpa harus diundi. Berkat lobi dan pendekatan yang baik, usahanya berhasil. Dia dapat dua tempat dan saat itu kontraknya Rp 5.000.

Penertiban itu ternyata membawa berkah. Setelah dibenahi, tempat itu ramai dikunjungi orang. Dagangan Bustamam justru jadi laris manis. “Semua yang dimasak habis. Saya belanja dan masak, istri melayani pelanggan. Kami belum pakai karyawan karena belum sanggup menggajinya,” ujar Bustamam.

Meski mulai ramai, dia harus terus bekerja keras. Banyak suka duka dilaluinya. Pernah suatu ketika tangannya tersayat pisau ketika sedang mencukur tunjang. “Ketika itu saya menangis. Menangis bukan karena sakitnya sayatan, tapi menangis karena susahnya hidup,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca mengenang perjuangannya.

Salah satu cabang Restoran Sederhana. Foto : Dodi Wahyudi
Salah satu cabang Restoran Sederhana. Foto : Dodi Wahyudi

Perlahan usaha Bustamam berkembang. Awalnya hanya menanak nasi 30 liter sehari, berkembang menjadi 60 liter. Namun perjalanan usaha tidak selamanya mulus. Rekan bisnisnya seorang oknum polisi yang melihat kemajuan usahanya datang tengah malam dan minta tempat beserta karyawan. Dia kembali harus merintis dari nol.

Suatu ketika, Bustamam makan di kedai nasi lain. Ternyata, masakan di tempat orang itu lebih enak dari masakannya. Dia pun sadar bahwa dia harus lebih banyak belajar. Dia memberanikan diri minta resep pada tukang masak di rumah makan tersebut. Ternyata disambut baik.

“Tidak hanya dikasih resep, saya juga dikasih teori masak. Yang saya pakai sampai saat ini adalah resep dari tukang masak tersebut. Sayangnya, ketika saya sudah berhasil, saya cari-cari dia tidak ketemu lagi. Padahal jasanya sangat besar pada saya,” ulas Pak Haji.

Pengalaman belajar dari tukang masak itu menjadi pemicu baginya untuk terus belajar. Caranya, di mana pun ada kedai nasi yang ramai, maka dia akan makan di sana dan mempelajari kelebihan dan kekurangan dari saingannya itu. “Saya pelajari trik orang yang maju dan pelajari juga kekurangan orang yang gagal,” ujarnya.

Bustamam menceritakan, sebenarnya dia tidak pernah terbayang akan memiliki cabang di hampir seluruh Indonesia, seperti sekarang. Namun, suatu ketika pelanggannya bernama Eri Sembiring menyarankan agar dia membuka cabang, karena masakannya memiliki kekhasan dan sesuai dengan lidah berbagai suku.

“Saya buka cabang pertama di Pekanbaru pada tahun 2002. Setiap memasuki daerah baru, saya kunjungi kedai nasi yang paling ramai dan mempelajari kelebihan dan kekurangannya. Tujuannya untuk belajar dan mencari peluang. Dari kekurangannya, kita belajar dan mendapatkan peluang. Intinya, dalam berusaha kita harus menguasai kelebihan dan kele­mahan kawan,” paparnya.

Sekarang Haji Bustamam sudah memiliki 100 rumah makan di seluruh nusantara. Di Indonesia dia sudah memiliki cabang di seluruh provinsi, kecuali Papua.

Selain mempelajari kelebihan dan kekurangan lawan, kiat sukses Pak Haji adalah tidak pernah meremehkan karyawan. Dia sangat yakin, setiap orang ada kelebihan. “Yang penting memiliki semangat tinggi dan fokus. Kalau ada orang bersemangat namun tidak fokus, maka tidak akan sukses. Apa pun pekerjaan, jangan tanggung-tanggung, karena tidak ada orang yang tanggung-tanggung yang berhasil,” jelasnya.

Sekarang, Bustamam dikenal sebagai orang sukses yang dermawan. Hampir semua orang di Lintau mengenalnya sebagai sosok yang banyak memberi bantuan untuk kegiatan sosial.

”Cari saja rumah paling besar dan megah di sebelah sana. Itu adalah rumah Pak Haji. Jika ragu, tanya saja sama orang, semuanya pasti tahu kok,” ujar seorang ibu ketika berkunjung ke Nagari Lubuk Jantan.

Betapa orang tidak akan kenal Haji Bustamam, banyak warga Lintau yang bekerja di rumah makan miliknya, selain itu, Pak Haji –panggilan akrab Bustamam,  dikenal sebagai orang dermawan dan banyak memberikan sumbangsih untuk kampung halamannya.

Rumahnya juga mencolok dan berbeda dengan rumah warga lainnya. Selain besar, rumah itu juga megah dan ramai dikunjungi orang. Bahkan, di dalam rumah ada meja makan dengan desain prasmanan, semua tamu bisa menikmati makan layaknya makanan di RM Sederhana. Tak jauh dari rumah itu, Pak Haji juga membangun masjid yang tak kalah megahnya.

(Hijrah Adi Sukrial)

Loading...
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...