
PADANG, KABARSUMBAR – Kepala Badan Pusat Statistik Sumatra Barat Sukardi mengatakan dari program pemerintah untuk masyarakat miskin seperti bantuan sosial, beras dan lain sebagainya membuat menekan jumlah dan persentase penduduk miskin di Sumbar cukup menurun jauh.
Dikatakannya, hal tersebut diklaim mengalami penurunan drastis sejak 11 tahun terakhir berdasarkan catatan BPS Sumbar, jumlah penduduk miskin pada 2018 mencapai 353,24 ribu jiwa.
Sedangkan pada 2007 lalu, jumlah angka kemiskinan warga Sumbar mencapai 529,2 ribu jiwa. Jika dipresentasekan, kemiskinan warga Sumbar 2007 mencapai 11,9 persen. Sedangkan di 2018, hanya 6,55 persen.
“Jika dibandingkan dengan bulan September 2017, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan 6,76 ribu orang,” ujarnya di Padang, Selasa, (15/1/2019).
Menurutnya, penurunan jumlah penduduk miskin paling tinggi terjadi di desa atau nagari. Sedangkan di kota, jumlah penduduk miskin di perkotaan mengalami peningkatan dari 114, 84 ribu jiwa menjadi 125,28 ribu jiwa.
“Data dari Maret hingga September terjadi peningkatan 10,74 ribu orang. Sementara, di desa terjadi penurunan sebanyak 14,63 ribu jiwa. Total seluruhnya penduduk miskin di pedesaan mencapai 353,24 ribu jiwa,” ungkapnya.
Sukardi mengatakan, mengenai perubahan garis kemiskinan, BPS menghitung untuk September 2018 adalah Rp 485.633 kapita per bulan.
“Garis kemiskinan merupakan merupakan pengeluaran rata-rata per kapita perbulan yang digunakan untuk mengklarifikasi penduduk masuk golongan miskin atau tidak miskin,” kata dia.
Di sisi lain, ia menyebutkan bahwa garis kemiskinan (GK) dipengaruhi oleh makanan dan non makanan. Komoditi makanan memberikan sumbangan terbesar garis kemiskinan di perkotaan maupun di pedesaan.
“Beras dan rokok kretek memberikan andil yang besar, baik di desa maupun di kota. Kemudian untuk kategori non makanan adalah perumahan,” jelasnya.
(Putri Caprita)





