Pemerintah

Wajah Dunia Pendidikan Di Selatan Limapuluh Kota, Pelajar Bertaruh Nyawa Akibat Jembatan Rusak

39
×

Wajah Dunia Pendidikan Di Selatan Limapuluh Kota, Pelajar Bertaruh Nyawa Akibat Jembatan Rusak

Sebarkan artikel ini

Limapuluh Kota – Meski harus bertaruh nyawa dengan melewati jembatan gantung sawah gadang, Nagari Sitanang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, ratusan pelajar dari berbagai tingkatan sekolah tetap harus memberanikan diri melewati jembatan yang dibangun tahun 1974 Itu.

Jembatan gantung yang membentang diatas aliran sungai batang sinamar itu, merupakan akses atau jalan terdekat menuju sekolah maupun Kantor pemerintahan nagari.

Urusan jatuh, bagi pelajar merupakan urusan kedua, bagi mereka pergi sekolah menempuh pendidikan adalah hal yang utama, sehingga nantinya mereka bisa menjadi orang hebat yang akan membebaskan nagari mereka dari berbagai ketertinggalan dibandingkan dengan nagari lainnya di Kabupaten Limapuluh Kota.

Selain pelajar, petani dan masyarakat lainnya setidaknya dua kali harus bolak-balik jika ingin bepergian. Bagi yang memiliki sepeda motor, harus extra hati-hati, sementara yang berjalan kaki juga harus waspada karena papan atau bantalan jembatan sudah banyak yang lapuk.

“Sudah terbiasa, saat naik sepeda motor maupun jalan kaki, meski terkadang juga muncul rasa takut,” ujar pelajar Kelas IX SMP N 5 bernama Naura, baru-baru ini.

Naura yang mengaku tinggal di Jorong Bati Kabau itu juga menambahkan, ia bersama pelajar lainnya memang memanfaatkan jembatan tersebut untuk akses utama pergi ke sekolah.

“Sembilan tahun lebih melewati jembatan ini, meski tidak lagi takut, namun sesekali rasa tersebut tetap muncul, semoga kedepannya perbaikan segera dilakukan agar tidak ada korban.” tutupnya.

Sementara itu, Walinagari Sitanang Kecamatan Lareh Sago Halaban, Hardison menyebut bahwa pasca dibangun, jembatan belum pernah mendapatkan perbaikan secara maksimal, perbaikan hanya dilakukan secara swadaya, meski selalu diusulkan akan diperbaiki.

“Perbaikan hanya dilakukan secara swadaya oleh pemerintah nagari bersama masyarakat. Sementara dari pemerintah daerah, provinsi dan pusat belum ada untuk jembatan yang menghubungkan tiga jorong itu, yakni jorong Sungai Ipuah, jorong Coran dan jorong Batu Kabau,” ucap Walinagari, Kamis (02/05/2026).

Walinagari juga menambahkan, jembatan gantung tersebut merupakan akses utama  bagi masyarakat.

“Jembatan ini merupakan akses utama masyarakat, peserta didik maupun petani yang sangat dibutuhkan untuk akses perekonomian. Selain bantalan dan papan lantai, kawat sling juga rapuh, sehingga kita khawatir akan membahayakan masyarakat yang melintas,” tambahnya.

Sementara terkait korban jatuh, disebut sangat banyak, bahkan mantan kepala Jorong pernah terjatuh.

“Mantan pemuka masyarakat kita atau kepala jorong pernah jatuh kedalam sungai, kita tentu berharap tidak ada lagi korban, apalagi kalau nanti tali Sling jembatan putus.” ujarnya.

Meski selalu menjadi prioritas saat diusulkan oleh Pemerintah Nagari ketingkat Kabupaten, namun “mimpi” ribuan tersebut tak kunjung menjadi kenyataan. (Ikhlasul Ihsan)

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.