ACT Antarkan Kebahagiaan Ramadan ke Siberut Tengah

Butuh waktu dua jam menggunakan speed boat untuk tiba di Desa Saibi Samukob, Siberut Tengah

MENTAWAI, KABARSUMBAR – Kapal motor penyeberangan Ambu-Ambu meniupkan klaksonnya, bersahutan dengan kumandang azan Magrib di Pelabuhan Bungus, Kota Padang. Kapal mulai bergerak, buih air laut yang semakin banyak menandakan mesin memacu gerak kapal kian cepat.

Jumat (24/5) itu adalah hari pertama pelayaran bantuan pangan Kapal Ramadhan Aksi Cepat Tanggap untuk Kepulauan Mentawai. Bantuan pangan keberangkatan pertama itu menuju Pulau Siberut, 175 kilometer jauhnya dari kota Padang.

Hari semakin gelap, oranye senja telah berganti indigo. Pulau-pulau kian samar, kapal-kapal nelayan tampak makin kecil menjelma kerlip lampu di tengah samudera. Hanya deru mesin kapal pengangkut 7.200 kilogram atau setara 600 paket pangan ke Pulau Siberut itu yang menjadi satu-satunya pemecah sunyi di tengah laut.

Perjalanan Kapal Ramadhan Kepulauan Mentawai itu membutuhkan waktu sekitar 10 jam untuk tiba di Pulau Siberut. Sabtu (25/5) pukul empat pagi kapal merapat ke dermaga Muara Siberut yang terletak di Kecamatan Siberut Selatan. Di wilayah yang masuk dalam kawasan pelestarian alam Taman Nasional Siberut itulah paket pangan akan dibagikan.

Butuh waktu hingga dua jam menunggu truk-truk pembawa bantuan pangan Kapal Ramadhan keluar dari kapal. Truk-truk itu memang telah diparkir di geladak sejak pagi hari saat di Pelabuhan Bungus sehingga untuk keluar kapal, kami harus menunggu antrean kendaraan ataupun barang di depannya. Truk pun menuju ke salah satu dermaga kecil yang berada di sisi timur Kecamatan Siberut Selatan, satu kilometer dari pelabuhan utama.

Koordinator Program Aksi Cepat Tanggap Sumatera Barat (ACT Sumbar) Aan Saputra mengatakan, sesampainya di Pulau Siberut, bantuan pangan pertama kali akan diantarkan ke wilayah Siberut Tengah. “Kita akan menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan lagi dengan speed boat,” kata Aan. Sejumlah desa di Siberut Tengah menjadi wilayah terjauh yang didata ACT Sumbar dalam program Kapal Ramadhan Kepulauan Mentawai kali ini.

Dus-dus bantuan pangan pun dipindahkan dari truk ke dalam speed boat menggunakan becak motor modifikasi ala masyarakat Siberut. Sabtu pagi itu, ratusan paket pangan sesuai kapasitas memenuhi lambung kapal. Sekitar pukul sembilan pagi, tali dinamo mesin speed boat pun ditarik. Hadiah pangan untuk saudara di kepulauan terluar pun semakin dekat.

Menyapa yang jauh

Ustaz Bilal (26) menyambut kedatangan kami. Ia adalah salah satu dai, mualaf, sekaligus pemimpin jemaah di Desa Saibi Samukop, Siberut Tengah. ”Kami sangat bersyukur sekali atas kedatangan saudara-saudara yang jauh dari Padang, kami merasa masih banyak saudara-saudara kami yang peduli,” ungkapnya.

Sambutan hangat itu pun diikuti dengan sikap masyarakat. Anak-anak berkerumun, penasaran dengan isi speed boat yang telah dua jam membawa kami menyusuri laut dan hulu sungai itu.

Paket-paket pangan satu per satu diturunkan dari perahu, warga dan tim berjajar mengestafetkan paket pangan ke daratan.

Menurut Ustaz Bilal, paket pangan Kapal Ramadhan itu menjadi salah satu kebahagiaan bagi warga desa di Ramadan kali ini. Kepedulian masyarakat melalui Aksi Cepat Tanggap menjadi bentuk rangkulan bagi mualaf di Desa Saibi Samukop.

“Selama Ramadan kami sahur seadanya, makan sagu di sini. Bila berbuka, keinginan berbuka bersama di masjid ada, namun untuk konsumsi buka bersama jemaah di masjid tidak ada. Kalau iftar, kita buka dengan air putih saja,” cerita Ustaz yang pernah belajar di salah satu pesantren di Boyolali, Jawa Tengah itu.

Kehidupan sederhana di Saibi Samukop

Tidak ada penghasilan tetap bagi masyarakat Desa Saibi Samukob. Sehari-hari, mereka menjual pinang kering yang dibandrol seharga Rp 7 ribu per kilogramnya.

“Sekali jual, biasanya masyarakat bisa lima kilo, sehari-hari itu saja sudah,” kata Ustaz Bilal.

Untuk makanan pokok, mereka mengolah sagu secara mandiri, mulai dari menebang hingga mengolahnya menjadi bubur sagu.

Ramadan pun menjadi momen yang menyenangkan bagi mereka. Momen memperkuat persaudaraan dan keislaman mereka. Terlebih dengan hadirnya paket pangan Kapal Ramadhan ini, mereka benar-benar tidak menyangka masih banyak saudara yang peduli. Walau tinggal jauh terpisah laut dan sungai dari ibu kota kabupaten, keinginan mereka untuk belajar Agama Islam terus tertanam dalam diri.

[Putri Caprita]

Loading...

DomaiNesia

BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...