Hendri Rizaldi, Ketua Forum Komunikasi Driver Online Padang (FKDOP)

Hendri Rizaldi bersama manajemen Gojek. Foto : Hijrah Adi Sukrial
Hendri Rizaldi bersama manajemen Gojek. Foto : Hijrah Adi Sukrial
Hendri Rizaldi bersama manajemen Gojek. Foto : Hijrah Adi Sukrial
Hendri Rizaldi bersama manajemen Gojek. Foto : Hijrah Adi Sukrial

Awal Gojek beroperasi di Kota Padang, mitra gojek seakan berjalan sendiri-sendiri. Adalah Hendri Rizaldi yang kemudian bergerak menyatukan para driver dalam satu wadah. Mitra yang tadinya jalan sendiri-sendiri sekarang bersatu berbuat kebaikan dalam wadah Forum Komunikasi Driver Online Padang (FKDOP).

Di lapangan, Hendri Rizaldi lebih dikenal dengan panggilan Bang Tulang. Dia dipanggil Bang Tulang bukan karena dia orang bersuku Batak, tapi ternyata karena ketika SMP badannya sangat kurus. Nama itu melekat hingga hari ini, meski badannya sudah tidak kurus lagi.

Bang Tulang menjadi mitra Gojek sejak Mei 2017. Sama seperti mitra lainnya, dia awalnya berjalan sendiri-sendiri. Di lapangan, penolakan terhadap transportasi online masih tinggi. Tak jarang dia atau kawan-kawannya mendapat intimidasi dari ojek pangkalan.

Perlahan, para mitra gojek mulai merapatkan barisan dan mendirikan komunitas-komunitas. Umumnya komunitas dibentuk berdasarkan tempat mereka mangkal. Bang Tulang merasa, alangkah lebih baik para driver atau mitra gojek ini disatukan dalam satu wadah.

Bersama beberapa teman, Bang Tulang kemudian menghimpun atau mengumpulkan seluruh komunitas-komunitas tersebut. “Niat awal saya hanya untuk menyatukan, sehingga memudahkan membantu kawan-kawan saat kecelakaan dan ketika ada intimidasi dari pihak lain,” ujar alumni SMAN 9 Padang ini.

Seiring berjalan waktu, sampai saat kini sudah 41 korlap dan komunitas yang disatukan Bang Tulang dalam FKDOP, dengan jumlah mitra gojek menjadi anggota mencapai 3.000 driver. Perlahan struktur organisasi ini terus disempurnakan, di tingkat kecamatan ada koordinator lapangan, sedangkan di bawahnya ada komunitas.

Seiring berjalan waktu, organisasi ini kemudian bergerak menjadi organisasi sosial mitra gojek. Kegiatan sosial utama adalah membantu setiap ada mitra gojek yang dapat musibah kecelakaan atau sakit. Biasanya para mitra akan spontan membantu pengurusan ke rumah sakit dan mengumpulkan sumbangan untuk meringankan beban mitra gojek yang dapat musibah tersebut.

Tak hanya untuk internal, mitra gojek juga menunjukkan eksistensi keluar komunitas. Salah satunya, ketika ada bencana banjir bandang di Kabupaten Solok Selatan, mereka mengumpulkan sumbangan dan mengantarkannya ke lokasi bencana. “Kadang kami juga anjangsana ke panti asuhan,” ujar alumni STIE Dharma Andalas ini.

Tulang yakin, meski hanya seorang driver gojek, apabila semuanya dikumpulkan untuk berbuat kebaikan, maka banyak hal-hal baik yang bisa dilaksanakan bersama-sama.

Sekarang, sudah banyak lembaga lain yang mengajak mereka bekerjasama untuk berbuat kebaikan. Salah satunya adalah Polda Sumbar. Ketika itu ribuan mitra gojek dikumpulkan di Kantor Gubernur Sumbar untuk deklarasi anti hoax.

“Ketika itu adalah hal paling berkesan bagi saya. Sekitar 1.000 driver berkumpul di Gubernuran. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama, kami diberi penyuluhan narkoba dan juga melakukan deklarasi anti hoax. Melihat kawan berkumpul begitu banyak melakukan hal positif, saya haru dan mata saya berkaca-kaca,” jelas pria kelahiran Padang 5 Mei 1983 itu.

Mitra dengan Pola PNS

Selain mengumpulkan orang dalam berbuat baik, Bang Tulang memiliki keunikan dalam menjalankan profesinya sebagai driver gojek. Dia memiliki pola sendiri, yaitu bekerja layaknya pegawai negeri sipil (PNS). “Saya mulai narik jam 7.00 pagi dan selesai pukul 17.00. Berapa pun poin akan saya bawa pulang,” ujar Tulang.

Dia menilai, selagi bekerja sungguh-sungguh, pandai mencari waktu dan tempat yang pas untuk mencari penumpang, tidak ada ceritanya mitra gojek akan sepi penumpang. “Dengan pola PNS, saya hampir selalu putus poin,” ujar Tulang.

Nah, terinspirasi dari banyaknya pesanan Go Food, bersama istrinya Sri Nofiyarlisma, Tulang kemudian merintis usaha Mie Online dengan pasar utama pesanan melalui Go Food. “Menunya  spesifikasi mie. Ada mie goreng, kwetiau, bihun ifumi dan mie pedas,” jelasnya.

Saat pulang mencari penumpang dari sore hingga malam hari, tak jarang Tulang harus membantu istrinya memasak pesanan orang. “Dulu ada pertemuan dengan manajemen Gojek, kami dimotivasi tidak sekadar menjadi driver, tapi memanfaatkan peluang bisnis lainnya dari kehadiran Gojek. Saya wujudkan melalui Mie Online,” ulasnya.

Tulang juga selalu memotivasi para driver lainnya untuk membuka usaha seperti Go Food. Menurutnya, jika hanya mengandalkan jadi driver, tak tertutup kemungkinan karena ada kesalahan kita putus mitra, lalu tak bisa cari penumpang dan kehilangan penghasilan. “Oleh karena itu kita mesti punya safety atau cadangan penghasilan,” tutur Tulang.

Meski dia memiliki ijazah diploma dan istrinya memiliki ijazah sarjana ekonomi, menurut Tulang dia belum pernah memanfaatkan ijazahnya untuk melamar pekerjaan. Selain jadi mitra gojek, memiliki usaha Go Food, pada Sabtu-Minggu, Tulang menjalankan usaha Fotografi untuk pesta pernikahan dan acara lainnya.

“Intinya, apa pun pekerjaan, kalau dilakoni dengan sungguh-sungguh, terus belajar dan berinovasi, pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal,” tegasnya.

(Hijrah Adi Sukrial)