Feature

Bangkit dari Lumpur: Tamiang Berjuang Pulihkan Peradaban Melayu yang Hilang

360
×

Bangkit dari Lumpur: Tamiang Berjuang Pulihkan Peradaban Melayu yang Hilang

Sebarkan artikel ini

Lumpur tebal menyelimuti wilayah ini, menutupi puing-puing peradaban Melayu kuno yang pernah berjaya di tepian Sungai Tamiang.

Tamiang, Aceh – Diterjang banjir bandang sebulan lebih tiga hari lalu, Tamiang, kabupaten di Aceh bagian timur, kini berjuang memulihkan diri.

Lumpur tebal menyelimuti wilayah ini, menutupi puing-puing peradaban Melayu kuno yang pernah berjaya di tepian Sungai Tamiang.

Namun, semangat pantang menyerah terus membara.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah, relawan, dan seluruh elemen bangsa, Tamiang optimis untuk bangkit kembali.

Bantuan terus mengalir ke Tamiang. Puluhan alat berat dikerahkan untuk membersihkan lumpur, sementara ribuan relawan dari berbagai instansi bahu-membahu membantu warga.

Presiden RI, Prabowo Subianto, bahkan telah dua kali mengunjungi Tamiang untuk memastikan proses pemulihan berjalan lancar.

Rencananya, presiden akan kembali datang untuk ketiga kalinya sebagai bukti komitmen pemerintah dalam membantu Tamiang bangkit.

“Awalnya kami merasa Tamiang dibiarkan berjuang sendiri. Tapi sekarang kami tahu, negara dan seluruh bangsa Indonesia tidak akan membiarkan kami,” ujar Wulandari, seorang guru SDIT di Tamiang.

Sungai Tamiang bukan sekadar aliran air. Sejak abad ke-7 Masehi, sungai ini telah menjadi saksi bisu lahirnya peradaban Melayu tertua di Sumatra.

Di tepiannya, perkampungan Melayu tumbuh, menjadi simpul perdagangan, budaya, dan keyakinan.

Jalur air ini menghubungkan pedalaman Sumatra dengan Selat Malaka, menjadikan Tamiang pintu masuk ke dunia luar.

Namun, waktu dan bencana alam, terutama banjir lumpur dahsyat pada 25 November 2025 lalu, membuat peradaban Tamiang perlahan terkubur. Data sejarah menyebutkan Tamiang adalah kerajaan Melayu tua yang telah eksis sejak abad ke-7.

Herdian, seorang penggiat sejarah di Tamiang menjelaskan, hilangnya tiang-tiang rumah, jalur pelabuhan kuno, hingga artefak yang belum sepenuhnya terungkap. Kini tertimbun di bawah lumpur, seperti arsip alam yang menunggu untuk digali.

Tamiang juga memiliki sejarah panjang dalam penyebaran Islam di Nusantara. Islam datang lebih awal di sini, menyatu dengan adat Melayu.

Jejak-jejak Islam awal ini tidak hanya berupa bangunan megah, tetapi juga terwariskan dalam sistem adat, bahasa, hukum keluarga, dan struktur kepemimpinan lokal.

Meski peradabannya tertimbun, identitas Melayu Tamiang tetap hidup.

Bahasa, adat istiadat, pantun, petuah, hukum adat, dan nilai-nilai Islam yang kuat terus diwariskan dari generasi ke generasi.

“Sampai kapan pun, Tamiang boleh saja kehilangan istana dan prasasti, tetapi tidak kehilangan jiwanya,” ujar Rian, seorang pemerhati bencana banjir Aceh Tamiang sekaligus jebolan Univeristas Sumatra Utara.

Kini, Tamiang terus berbenah. Hunian sementara mulai dibangun di dekat Masjid Darussalam oleh BUMN Karya, Himabara, Pertamina, dan PLN. Masyarakat Tamiang terus memelihara optimisme untuk bangkit kembali, menggali kembali kejayaan peradaban Melayu kuno, dan menjiwai semangat pembangunan Tamiang modern.

“Tanpa riset arkeologi, dokumentasi sejarah, dan kesadaran kolektif, peradaban Melayu awal ini akan terus terkubur, bukan hanya oleh lumpur, tetapi oleh lupa,” ujar Herdian lagi.

Tamiang adalah pengingat bahwa peradaban tidak hanya runtuh oleh perang, tetapi juga oleh bencana alam.

Namun, selama cerita masih dituturkan, sejarah tidak akan pernah mati.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.