Hentikan Ekploitasi Lumba-lumba, Walhi Sumbar Minta Wako Padang Batalkan Izin Sirkus

PADANG, KABARSUMBAR – Beberapa hari belakangan terlihat pembangunan area untuk pertunjukan atraksi lumba-lumba di kawasan GOR H. Agus Salim Padang. Berdasarkan pengamatan Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sumbar tempat pertunjukan tersebut sudah hampir rampung.

Di bagian luarnya pun sudah penuh ditutupi spanduk gambar atraksi lumba-lumba yang tentu diharap bisa menarik masyarakat Kota Padang untuk menyaksikan atraksi tersebut. Selain itu juga ada spanduk yang berisi informasi kapan atraksi tersebut akan dimulai.

Atraksi lumba-lumba sepertinya memang menarik untuk disaksikan, namun seringkali kita lupa bahwa atraksi tersebut merupakan bentuk eksploitasi lumba-lumba untuk kepentingan ekonomi yang biasanya jarang mempertimbangkan keadilan dan kesejahteraan hewan mamalia air tersebut. Biasanya proses persiapan atraksinya pun menyengsarakan lumba-lumba. Proses pengangkutannya tidak layak dan sangat sempit, dan saat pengangkutan lumba-lumba hanya diberikan spon/handuk basah.

Lumba-lumba diangkat dari satu kota ke kota yang lain yang bukan habitat mereka. Dipertontonkan ke publik semata-mata untuk kepentingan ekonomi manusia, serta lumba-lumba dipaksa beratraksi beberapa kali sehari.

Bahkan mereka diberikan air yang bukan dari habitat aslinya yang tentu dapat merusak kesehatan, pada kolam yang permanen saja sulit bagi lumba untuk merasakan rasa nyaman apalagi dipindah-pindahkan yang bukan habitatnya. Jika aktivitas ekploitasi ini diberikan ruang akan memperpendek usia satwa yang sangat cerdas dan sosial ini. Lumba-lumba jika hidup yang bukan pada habitatnya usianya jauh lebih pendek dari pada dihabitatnya. Kalau dihabitatnya usia lumba-lumba mencapai 35-40 tahun kalau di kolam 3-5 tahun.

Walhi Sumatera Barat merasa keberatan dengan kegiatan tersebut karena ini merupakan bentuk pengabaian dalam pengelolaan sumber daya alam yang adil dan lestari.

“Atraksi lumba-lumba ini adalah bentuk pengabaian penghormatan antar spesies sebagai salah satu bentuk keadilan ekologis, di mana semua makhluk hidup seharusnya memiliki hak untuk hidup dan tidak dieksploitasi untuk kepentingan manusia saja,”ujar Uslaini Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Barat.

Menyikapi hal tersebut Walhi Sumatera Barat mengirimkan surat keberatan kepada Walikota Padang terkait hal tersebut dan meminta Pemko Padang meninjau ulang izin yang diberikan. Apalagi hal ini juga bertentangan dengan Permen LHK Nomor 92 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi.

Selain itu Walhi Sumatera Barat juga mengajak masyarakat untuk sama-sama peduli dengan hal ini, salah satu caranya adalah dengan tidak menyaksikan atraksi tersebut. Karena seperti prinsip ekonomi di mana ada permintaan maka di situ ada penawaran.

Jika peminat dari atraksi lumba-lumba berkurang maka tentu perlahan tapi pasti eklpoitasi mamalia air ini tidak akan dijadikan lagi sebagai cara untuk mendapatkan uang bagi mereka yang tidak peduli dengan keadilan ekologis.

(Putri Caprita)

Loading...
DomaiNesia
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...