Melawat ke Gunungsitoli Kota Penuh Estetika di Pulau Nias

Masjid Raya Al-Furqan   di malam hari, megah dan berada di tengah pasar Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara. Masjid yang dibangun oleh masyarakat Nias bersama saudagar dari Padang dan Aceh, Selasa (17/7/2018). Kariadil Harefa/tanharimage
Masjid Raya Al-Furqan
di malam hari, megah dan berada di tengah pasar Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara. Masjid yang dibangun oleh masyarakat Nias bersama saudagar dari Padang dan Aceh, Selasa (17/7/2018). Kariadil Harefa/tanharimage

Perkembangan Kota Gunungsitoli, Kepulauan Nias, Sumatera Utara terus menggeliat, tentunya dengan pembagian menjadi empat kabupaten dan satu kota. Bahkan, Kota Gunungstoli dianggap sebagai kota transit dan sentra perdagangan interkoneksi antarkota, seperti Kota Padang, Sibolga, Singkil dan empat kabupaten yang ada di Nias, yakni Kabupaten Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kabupaten Nias. Sehingga, koneksi membangun pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah ini sangat mudah, baik transportasi darat dan udara yang terus aktif.

Setiba di Bandara Binaka Gunungsitoli, terdapat gapura ucapan Ya’ahowu dan selamat datang di Gunungsitoli. Sepanjang perjalanan memasuki kota Gunungsitoli, sederatan rumah ibadah, berdiri berdampingan baik masjid dan gereja sehingga menegaskan kultur agama di Nias sangat kental dan tidak dapat dipisahkan, karena ikatan persaudaraan yang disebut Talifusö. Sebutan ini bukan sekadar ucapan akan tetapi tetap menjadi titah tertinggi dan dijunjung oleh masyarakat Nias. Saat memasuki kota, tampak masjid berdiri megah dan gagah di kawasan pasar tidak jauh dari pantai, sehingga estetika Timur Tengah tampak indah, tidak hanya itu gereja-gereja pun berlaku sama, tampak desain ala Jerman dan Belanda juga terlihat gagah.

Gereja Jemaat BNKP Pulau Tello, Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara berada di atas bukit saat dipotret dari atas kapal kayu. Kariadil Harefa/tanharimage.
Gereja Jemaat BNKP Pulau Tello, Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara berada di atas bukit saat dipotret dari atas kapal kayu. Kariadil Harefa/tanharimage.

Tiba-tiba mataku tertuju pada salah satu masjid yang berada di dekat pantai, Masjid Raya Al-Furqan namanya. Masjid ini berada di pusat kota, dan mengalami pasang surut atas pembangunannya setelah hancur saat Gempabumi melanda Pulau Nias 2005. Masjid ini dibangun pada medio 1950-an, oleh penduduk asli Nias bersama saudagar yang berasal dari Sumatera Barat dan Aceh. Para saudagar tersebut berdagang di pasar Kota Gunungsitoli, sehingga disebut Masjid Pasar sebelum menjadi nama Masjid Raya Al-Furqan.

Peribadatan umat Muslim di Nias yang terletak di Jalan Sirao, Saombo, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara acap dijadikan lokasi tabligh akbar, serta menunaikan salat lima waktu serta salat Jumat, tidak hanya itu bagi traveler juga dapat menikmati keindahan dalam masjid serta dapat menunaikan salat. Konon kabarnya, Muhammad Yusuf Sisus, merupakan salah satu tokoh mendorong agar masjid dapat berdiri kokoh, hingga akhirnya dibentuklah Yayasan Peduli Muslim Nias (YPMN) 2006 bersama pengurus lainnya.

Sosok Sisus, dikenal banyak masyarakat, Ia merupakan pria Nias, kelahiran Padang, 11 Oktober 1952 dengan nama lahir Haogododo Lombu. Ketika duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, pria yang berasal keluarga dari Desa Sogaeadu, Gido, Nias mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam, sejak 31 Desember 1964. Selain YPMN pembangunan masjid ini juga turut serta terbangun atas Yayasan Rumah Infaq. Dahulunya, dalam blueprint atau desain awal kubah masjid raya Al-Furqan berwarna putih. Namun, dikarenakan material bangunan serta kesepakatan bersama, kubah tersebut bervariasi warna putih dan biru, berlantai dua, sehingga menampung ribuan umat Muslim saat melaksanakan salat Jumat dan agenda keagamaan umat Islam di Kepulauan Nias.

Nias, Sumatera Utara dikenal sebagai pulau dengan penghuni dengan mayoritas beragama Kristen Protestan dan Katolik. Meskipun demikian, masyarakat Muslim di daerah ini juga telah ada sejak berabad lamanya dan hidup berdampingan tanpa adanya benturan dalam kehidupan sosial, agama terutama persukuan. Masuknya agama Islam di Pulau Nias berawal dari kedatangan suku bangsa di Indonesia, seperti Aceh pada 1639 Masehi dan dari Sumatera Barat (Minangkabau-red) pada 1111 Hijriah atau 1691 Masehi, kemudian disusul pedagang dari Arab, Bugis dan India.

Salah seorang peselancar dari BBLC Kota Gunungsitoli ketika bermain selancar di pantai berombak ujung Pulau Nias di Soroma'asi, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Kariadil Harefa/tanharimage.
Salah seorang peselancar dari BBLC Kota Gunungsitoli ketika bermain selancar di pantai berombak ujung Pulau Nias di Soroma’asi, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Kariadil Harefa/tanharimage.

Asimilasi antara tiga suku, Nias, Aceh dan Minang menjadikan ketiganya saling membina ukhuwah dalam satu ikatan aqidah menjadi satu masyarakat Islam Niasatau disebut masyarakat Nias Pesisir atau istilah Ndrawa. Namun istilah Ndrawa yang dahulunya disebut sebagai pendatang, sekarang tidak, melainkan diartikan sebagai warga pemeluk agama Islam. Selain masjid raya Al-Furqan, di kota ini memiliki masjid tertua, yakni Masjid Agung dan Masjid Jami Ilir.

Simbol komunikasi lebih intim di daerah ini ialah sirih. Tradisi memakan sirih atau Manafo, merupakan alat komunikasi antar warga, terutama saat kedatangan tamu, atau istilahya memuliakan para tamu yang menginjak kaki di rumah atau di wilayah kepulauan ini. Bahkan, mengunyah sirih juga terdapat di Sumatera Barat dan Aceh, hampir mirip dimana memuliakan tetamu saat datang melawat ke suatu daerah atau rumah. Sirih ketika ditawari kepada seseorang, artinya telah menghormati tamu atau pendatang yang datang ke Pulau Nias. Sementara dalam catatan kebudayaan, jika mengunyah sirih sangat erat dengan pengaruh tradisi India masuk ke Indonesia.

[tulisan : kariadil harefa/kabarsumbar]

NB. Sebelumnya terbit di Harian Umum Rakyat Sumbar, 18 Juli 2018

Loading...
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...