Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melibatkan pakar dari sejumlah universitas untuk mengevaluasi bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Tim ahli dari ITS, Unair, IPB, dan UGM akan diterjunkan langsung ke lokasi bencana.
Mereka bertugas mengidentifikasi penyebab dan menilai tingkat kerusakan akibat banjir dan longsor.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan evaluasi ini krusial untuk merancang penanganan yang tepat sasaran.
KLH juga menyoroti potensi pencemaran lingkungan dari aktivitas usaha. Izin lingkungan seluruh unit usaha akan ditinjau ulang secara ketat.
Pengetatan evaluasi dokumen lingkungan ini dipicu oleh curah hujan ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana akibat cuaca ekstrem.
KLH menekankan dokumen perizinan harus sesuai dengan kondisi iklim terkini. Tindakan tegas akan diambil jika ditemukan dokumen yang tidak relevan.
“Baseline hujan kita itu meningkat hampir 18 kali dari kondisi normal,” kata Hanif.
Selain evaluasi dokumen, delapan perusahaan di Batang Toru, Tapanuli Selatan, diperintahkan untuk menjalani audit lingkungan.
Selama proses audit, kegiatan usaha perusahaan dihentikan sementara. Audit akan mencakup penilaian kerusakan lingkungan dan biaya pemulihan.
KLH akan menindak tegas jika ditemukan kerusakan berat atau pelanggaran hukum. Langkah ini diambil untuk menjaga kelestarian ekosistem Batang Toru.






