Menurunnya Integritas Etika Remaja Dalam Berkomunikasi Lewat Handphone

Pada era digital saat ini, komunikasi ataupun proses komunikasi itu sendiri telah mengalami perubahan yang pesat dari waktu ke waktu. Salah satunya adalah media sebagai perantara jalannya proses komunikasi itu sendiri. Dan didapati mayoritas manusia menggunakan handphone sebagai media berkomunikasi jarak jauh, dalam bentuk model komunikasi kontemporer yang saling memengaruhi dan membagi perhatian pada sifat dua arah atau dialog antar dua orang.

Faktanya, mayoritas pengguna handphone hampir mencukupi semua golongan dimulai dari orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak pun menggunakan handphone sebagai sebuah kebutuhan baru pada era ini. Ditambah lagi ketika pandemi Covid-19 pada akhir tahun 2019, yang mengharuskan jalannya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring kepada kalangan pelajar dan mahasiswa. Handphone memiliki peranan yang amat penting terhadap aspek pendidikan remaja dan anak-anak saat itu, serta terdapat berbagai fasilitas dari aplikasi-aplikasi yang mendukung media pembelajaran, agar sistem pembelajaran sekolah tetap terjalankan meski tidak bertatap muka.

Akan tetapi, hingga saat ini masih ditemukannya berbagai
dampak buruk bagi remaja dalam menggunakan handphone, sebuah penyalahgunaan yang telah mengurangi integritas perilaku dan etika kebanyakan remaja dalam berkomunikasi lewat handphone. Seperti kurangnya sopan santun ketika berkirim pesan pada orang yang lebih tua dengan tidak menggunakan ujung pangkal, memberikan respon-respon yang tidak mengenakkan bagi orang lain, menormalisasikan kata kasar, hingga memberi respon dengan hanya membaca saja tanpa memberikan balasan dengan pesan yang sepantasnya ketika berkirim pesan. Dimana permasalahan kecil seperti ini masih banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita. Namun apabila terlalu disepelekan, tentu nantinya akan menjadi sebuah masalah besar yang berpotensi menjadi sorotan masyarakat, apabila tidak ditanggulangi dalam ruang lingkup sosial terkecil, yaitu lingkungan keluarga dan sekolah yang sudah terverifikasi memiliki tanggung jawab akan hal ini. Terutama dibutuhkan peranan penuh dari orang tua maupun guru disekolah dalam mendidik serta memberikan arahan yang benar terhadap integritas perilaku dan etika remaja sebagai pihak yang berwenang dalam hal demikian pada remaja. Memberikan arahan yang benar seperti bagaimana etika yang tepat dalam berkirim pesan sesuai dengan siapa pesan tersebut akan dikirimkan, bagaimana merangkai kata-kata agar menjadi sebuah pesan utuh yang mudah dimengerti, kapan saja waktu yang tepat untuk berkirim pesan, dan pesan baik seperti apa yang dapat dikirimkan agar tidak memungkinkan timbulnya konflik dan permasalahan yang bisa saja terjadi ketika berkirim pesan.

Jadi, dikarenakan handphone menjadi sebuah kebutuhan baru dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan remaja modern ini. Peranan orang tua dan guru masih tetap dibutuhkan untuk memberikan arahan yang baik dan benar dalam menggunakan handphone bagi remaja, tidak hanya arahan bagaimana cara menggunakan aplikasi dan berbagai fasilitas yang terdapat pada handphone saja, tetapi juga didikan perilaku dan etika dalam komunikasi lewat telepon maupun berkirim pesan yang menjadi terapan semua orang di era ini. Sehingga integritas perilaku dan etika komunikasi yang baik bagi remaja tidak menyusut dan tetap diterapkan menyesuaikan dengan perkembangan media komunikasi saat ini maupun kedepannya, serta peranan orang tua dan guru disekolah akan selalu dibutuhkan bagi remaja dalam beretika agar adanya proses pendewasaan yang tepat dan baik untuk remaja kedepan.

Setelah melakukan beberapa pendekatan, telah didapati beberapa solusi yang dapat digunakan orang tua dalam meningkatkan integritas perilaku dan moral remaja ketika berkomunikasi lewat handphone, diantaranya:

1. Orang tua harus menjadi teladan dan senantiasa memberikan contoh yang baik bagi remaja dalam segala aspek sebagai model atau contoh terdekat bagi remaja dalam lingkup keluarga.

2. Melakukan pendekatan klasifikasi nilai dengan memberikan keluasan remaja menyatakan nilai-nilai dengan caranya sendiri, mengapa perbuatan itu baik atau buruk. Sehingga remaja dapat diajak mendiskusikan isu-isu moral serta efek baik dan buruk dari setiap perbuatan dengan orang tua.

3. Menjaga interaksi dengan anak dalam kegiatan sehari-hari diluar waktu berlibur. Sehingga seorang anak dapat merasakan adanya kehadiran serta peranan orang tua, dan ini akan membuat remaja dapat merasa lebih dekat dengan orang tuanya.

4. Menjadi figur teman dekat bagi anak disamping berperan sebagai orang tua. Agar anak remaja dapat melihat orang tuanya sebagai tempat bercerita lepas tentang segala hal, serta tempat memberi nasehat atau arahan yang bisa diandalkan dalam menjalankan berbagai persoalan kehidupan.

Nurul Muthmainnah