Kota PadangPolitik

Tokoh Sumbar : Wujudkan Pemilihan Umum Tanpa Ujaran Kebencian

831
×

Tokoh Sumbar : Wujudkan Pemilihan Umum Tanpa Ujaran Kebencian

Sebarkan artikel ini
Pelaksanaan Fokus Group Discussion (FGD) bertema "Pemilu 2019 Damai Tanpa Ujaran Kebencian" di J-Six di J-Six Padang, Jumat (28/9/ 2018).
Pelaksanaan Fokus Group Discussion (FGD) bertema "Pemilu 2019 Damai Tanpa Ujaran Kebencian" di J-Six di J-Six Padang, Jumat (28/9/ 2018).
Pelaksanaan Fokus Group Discussion (FGD) bertema "Pemilu 2019 Damai Tanpa Ujaran Kebencian" di J-Six di J-Six Padang, Jumat (28/9/ 2018).
Pelaksanaan Fokus Group Discussion (FGD) bertema “Pemilu 2019 Damai Tanpa Ujaran Kebencian” di J-Six di J-Six Padang, Jumat (28/9/ 2018).

PADANG, KABAR SUMBAR-Jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sejumlah tokoh di Sumatra Barat (Sumbar) menyerukan kepada masyarakat agar terciptanya Pemilu yang terselenggara dengan damai tanpa menimbulkan perpecahan.

Hiruk-pikuk jelang pemilihan tersebut kian tak terbendung. Mulai dari “perang” opini hingga penyebaran berita bohong (hoaks) yang disebar akun-akun tak bertanggungjawab di media sosial (medsos) kian menjadi-jadi. Isu sara, caci-maki hingga hujatan ekstrem saban hari menghiasi laman facebook, twitter, hingga IG para netizen.

Hal tersebut terjadi pasca ditetapkan pasangan calon (paslon) Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai kandidat yang akan berkompetisi merebut kursi RI 1. Kondisi ini merata terjadi di seluruh penjuru tanah air dan termasuk di Sumbar.

Dalam acara Fokus Group Discussion (FGD) bertema “Pemilu 2019 Damai Tanpa Ujaran Kebencian” di J-Six Padang yang dihadiri wartawan dan pers mahasiswa, Tokoh agama Sumbar Buya Irfianda Abidin menyerukan terwujudnya Pemilu damai dan aman di 2019 mendatang.

Dengan kata lain, jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat umat terpecah belah dan terkotak-kotak.

Ia mengatakan, masyarakat Sumbar cukup cerdas menyikapi perbedaan politik. Bahkan nyaris tidak terjadi konflik soal perbedaan politik di Ranah Minang. Hal ini terbukti sejak sekian kalinya pemilihan langsung di gelar di Indonesia.

“Sejak dulu, setiap konstestasi Pemilu, Ranah Minang selalu aman, tertib dan lancar. Kondisi itu terjadi karena kontrol umat yang sesuai filosofi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) selalu digenggam penduduk Sumbar,” kata Irfianda di Padang, Jumat (28/9/2018).

Pihaknya tak menampik, perbedaan politik tentu saja akan melahirkan riak-riak demokrasi. Namun hal itu akan dianggap wajar di negara demokrasi. Dengan catatan tidak menjurus ke kampanye hitam alias fitnah yang berujung anarkis.

“Yang membuat tak nyaman itu ya soal kampanye hitam, money politik. Sebetulnya, pola-pola itu yang menciderai hati warga Sumbar. Tapi, kami siap menjaga marwah pemilu damai di Ranah Minang,” terangnya.

Menjaga stabilitas politik, terang Irfianda, tak terlepas dari niat. Dia menghimbau agar penduduk Sumbar memasang niat yang lurus dalam mensukseskan pemilu 2019 tanpa konflik. Namun, untuk menetralkan suasana perbedaan politik, Irfianda juga meminta peran penuh penyelenggara dan pengawasan pemilu.

Ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) Sumbar itu meyakini, peran aktif penyelenggara dan pengawas pemilu akan meredam kegaduhan yang mencuat ke hadapan publik.

“Penyelenggara pemilu harus berlaku baik dan adil. Profesional dengan menjalankan tugas masing masing. Kemarin saya dengar Sumbar menjadi daerah dengan kerawanan tinggi. Saya heran, dari mana tolak ukurnya. Masyarakat Sumbar sangat santun, dan tidak mau terpecah belah,” sebutnya.

Sementara itu pemateri lainnya, Dosen Fakultas Ilmu Sosial FISIP Universitas Andalas (Unand) Aidinil Zetra mengatakan beredarnya hoaks, cacian dari aku-akun palsu di media sosial (medsos), kemudian dikirimkan berantai melalui grup-grup medsos, jelas merusak tatanan demokrasi damai yang telah terawat lama di negara ini.

Seharusnya melalui pemilu yang damai akan melahirkan tokoh politik berkualitas. Damai adalah sikap mendasar dari demokrasi. Tidak ada kekerasan dan perpecahan dalam berdemokrasi.

“Damai sangat penting dalam pelaksanaan pemilu. Demokrasi itu memberikan ruang bebas untuk menentukan pilihan tanpa paksaan,” terang pakar politik tersebut.

[putri caprita]

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.