Teknologi

VIDA Luncurkan ID FraudShield Hadapi Lonjakan Penipuan Digital

9
×

VIDA Luncurkan ID FraudShield Hadapi Lonjakan Penipuan Digital

Sebarkan artikel ini
VIDA secara resmi memperkenalkan ID FraudShield, sebuah inovasi pertahanan berlapis yang dikembangkan khusus untuk mengidentifikasi dan menangkal ancaman penipuan identitas berbasis AI secara real-time.
VIDA secara resmi memperkenalkan ID FraudShield, sebuah inovasi pertahanan berlapis yang dikembangkan khusus untuk mengidentifikasi dan menangkal ancaman penipuan identitas berbasis AI secara real-time.

Jakarta – Indonesia tengah menghadapi lonjakan kasus penipuan digital yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akumulasi kerugian akibat kejahatan siber itu mencapai Rp9,1 triliun pada periode November 2024 hingga Januari 2026, dengan rata-rata 1.000 pengaduan masyarakat masuk setiap hari.

Merespons kondisi itu, VIDA, perusahaan identitas digital dan fraud prevention di Indonesia, menggelar acara VIDA Beyond Liveness di Jakarta pada 6 Mei 2026. Dalam acara tersebut, VIDA resmi memperkenalkan ID FraudShield, inovasi pertahanan berlapis untuk mengidentifikasi dan menangkal penipuan identitas berbasis AI secara real-time.

Acara dibuka oleh Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Edwin Hidayat Abdullah. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi industri dalam menghadapi krisis keamanan siber, terlebih 65 persen masyarakat Indonesia terpapar upaya scam setidaknya sekali dalam sepekan.

“Skala ancaman ini menuntut pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, mensinergikan kebijakan yang kokoh, peran aktif institusi, serta implementasi teknologi yang mumpuni,” kata Edwin. Ia menambahkan, pertahanan digital yang efektif hanya dapat dicapai melalui kerja sama seluruh ekosistem, termasuk penyedia keamanan identitas digital seperti VIDA.

Peluncuran ID FraudShield didorong oleh berkembangnya teknik penipuan yang kini jauh melampaui manipulasi wajah. Pelaku disebut menggunakan injection attacks untuk menyisipkan gambar palsu ke sistem verifikasi, emulator farms untuk menjalankan ribuan identitas tiruan sekaligus, hingga GPS spoofing untuk memalsukan lokasi.

Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan keamanan digital harus berevolusi menghadapi pola ancaman tersebut. “Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada pemeriksaan orangnya saja, tetapi juga harus memeriksa perangkat dan jaringannya secara simultan,” ujarnya.

Menurut Niki, ID FraudShield memberikan visibilitas penuh untuk mendeteksi risiko yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh sistem standar. Solusi ini mengintegrasikan sejumlah kapabilitas, mulai dari Biometric Liveness, Device Intelligence, Behavioral Analytics, Network and Location, Rule Engine, hingga ID Graph.

Biometric Liveness berfungsi melindungi dari manipulasi wajah seperti deepfake, spoofing, dan screen replay. Sementara itu, Device Intelligence mendeteksi emulator, perangkat rooted atau jailbroken, serta aplikasi kloning, sedangkan Network and Location menangkap anomali koneksi seperti VPN, proxy, dan GPS spoofing.

Sistem ini juga menganalisis perilaku pengguna selama verifikasi identitas berlangsung. Melalui ID Graph, VIDA mengkorelasikan data perangkat, dokumen, dan biometrik lintas sesi untuk mendeteksi synthetic identity, device farms, hingga rekening perantara atau mule accounts.

VIDA menempatkan inovasi ini sebagai solusi penting bagi ekosistem keuangan, termasuk perbankan, multifinance, layanan pinjaman digital, asuransi, dan platform pembayaran. ID FraudShield disebut membantu institusi memperkuat deteksi ancaman tanpa mengorbankan pengalaman pengguna maupun kepatuhan terhadap regulasi.

“Pengembangan solusi ini merupakan manifestasi atas temuan kami di lapangan mengenai kerentanan sistem liveness konvensional terhadap serangan canggih,” kata Niki. Ia menegaskan VIDA berkomitmen membantu industri mengidentifikasi ancaman fraud yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh sistem standar.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.