BUKITTINGGI, KABARSUMBAR – Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengatakan perlu kerjasama semua pihak dalam memberantas ancaman generasi muda terhadap narkoba dan LGBT.
Dikatakannya bahaya nakorba, LGBT dan perkembangan global teknologi informasi yang begitu dahsyat dan amat dekat mengancam anak-anak sebagai generasi pelanjut bangsa ini.
Lebih lanjut, ia mengajak semua pihak melakukan antisipasi merobah semua hal tersebut untuk kebaikan bersama.
“Saat ini amat prihatin peredaran narkoba sudah dilakoni oleh orang Sumbar, bukan orang luar yang membawa nakorba ke Sumbar,” kata dia di Balai Sidang Hatta, Novotel Bukittinggi, Minggu (27/1/2019).
Bahaya nakorba saat ini kata Nasrul Abit, sangat dekat dengan masyarakat Sumbar dan perlu perhatian banyak pihak mulai dari pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperhatikan lingkungan tempat tinggal.
Kemudian soal bahaya prilaku LGBT terhadap generasi muda yang setiap waktu terus meningkat. Data dari Konselor RS. M. Djamil LGBT di Sumbar pada 2016 sebanyak 5 ribu orang, 9 ribu orang pada 2017 dan pertengahan 2018 sebanyak 14 ribu orang. Hingga saat ini yang terindifikasi penyakit mematikan HIV Aids 1.400 orang.
Sedangkan, prilaku seks bebas LGBT lebih ganas dari pada pengaruh Pekerja Seks Komersil (PSK), karena pelaku LGBT mereka mencari mangsa menyalurkan penyakit HIV Aids yang mengancam anak usia 12-15 tahun.
“Oleh karena itu, perlu semangat bersama memberantas LGBT di Sumatera Barat, yang tidak sesuai dengan ajaran agama dah filosofi budaya Adat Bansandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Yang sakit silahkan berobat, yang tidak mau berobah silahkan keluar dari Sumatera Barat,” ujarnya.
Saat ini, sebut Wagub untuk perlindungan hukum, pihaknya sedang menyusun Perda ketahanan keluarga yang di dalamnya ada penindakan terhadap prilaku maksiat dan LGBT.
Pemerintah Provinsi Sumbar juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas peranan Yayasan Minang Peduli telah mulai melakukan pembinaan di beberapa kabupaten dan kota di Sumatra Barat.
Serta mendukung apa-apa yang telah dilakukan YMP yang fokus pada pembinaan generasi muda Minang mulai dari sejak dini. Pembinaan usia dini dimulai dari keluarga, asupan gizi, prilaku sehat, pengetahuan dan pengajaran terhadap agama dan nilai-nilai budaya dalam bentuk pendidikan karakter.

Sementara itu, Ketua koordinator YMP, Muhammad Kadrial menyebutkan saat ini telah memiliki 27 orang fasilitator pendidikan usia dini bagi keluarga dan telah mengukuhkan sebanyak 38 orang fasilitator untuk kota Bukittinggi dan sekitarnya.
“Kami berharap fasilitator parenting Kota Bukittinggi ini dapat menjangkau daerah, Agam, Padang Panjang,Tanah Datar, Pasaman, Pasaman Barat. Sehingga kegiatan pendidikan anak usia dini yang dimulai dari keluarga akan mampu mendorong ibu-ibu muda kita melahirkan generasi yang berkarater islami, taat, berpengetahuan, berbudi luhur dan memiliki daya saing yang kuat,” terangnya.
(Putri Caprita)






