Bakajang, Tradisi Unik di Nagari Gunuang Malintang saat Lebaran

Salah satu kapal yang dipakai saat tradisi Bakajang. Satu unit kapal ini membutuhkan biaya pembuatan Rp 12-15 juta. Foto : Akang Basi Tuo
Salah satu kapal yang dipakai saat tradisi Bakajang. Satu unit kapal ini membutuhkan biaya pembuatan Rp 12-15 juta. Foto : Akang Basi Tuo
Salah satu kapal yang dipakai saat tradisi Bakajang. Satu unit kapal ini membutuhkan biaya pembuatan Rp 12-15 juta. Foto : Akang Basi Tuo
Salah satu kapal yang dipakai saat tradisi Bakajang. Satu unit kapal ini membutuhkan biaya pembuatan Rp 12-15 juta. Foto : Akang Basi Tuo

PANGKALAN, KABARSUMBAR – Masyarakat Nagari Gunuang Malintang, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota memiliki tradisi unik yang dilakukan setiap memasuki Hari Raya Idul Fitri, yaitu tradisi Bakajang. Masyarakat menaiki perahu hias untuk saling mengunjungi dan bersilaturrahmi saat Lebaran.

Menurut bahasa Melayu Kuno, kajang berarti perahu atau sampan, dan kajang ini digunakan sebagai alat mengarungi Batang Mahat untuk silaturahmi.

Kegiatan ini dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri dengan tujuan meningkatkan silaturahmi antara anak kemenakan dari empat suku yang ada di jorong nagari Gunuang Malintang tersebut.

Adapun keempat suku yaitu Suku Domo Jorong Koto Lamo yang dipimpin Datuak Bandaro, Suku Melayu Jorong Batu Balah yang dipimpin Datuak Sati, Suku Pagar Cancang Jorong Boncah yang dipimpin Datuak Paduko Rajo.

Selain itu, ada juga Suku Piliang Jorong Koto Masjid yang dipimpin Datuak Gindo Simarajo. Hadir juga petinggi adat nagari serta bundo kanduang dan Pemkab di Balai Nagari Gunuang Malintang.

Di aliran Batang Mahat (Maek, red) sebanyak lima buah perahu sudah disulap para pemuda di empat Jorong menjadi kapal berkuran besar. Kapal-kapal tersebut dirancang berbagai bentuk, menyerupai kapal veri. Guna merangkai kapal-kapal itu, para pemuda menyebut, menghabiskan biaya hingga mencapai Rp 12-15 juta per unitnya.

Acara alek Bakajang, merupakan warisan nenek moyang yang terus digalakkan masyarakat hingga sekarang, terutama anak muda.

Wali Nagari Gunuang Malintang, Wido Putra mengatakan, Tradisi Bakajang ala anak Nagari Gunuang Malintang ini, merupakan kegiatan menyambut bulan Syawal 1439 Hijriyah di kenagariannya. “Bakajang berarti ‘memperbaharui’. Dulu, pelaksanaan manjalang sanak saudaro ini, dilakukan memakai sampan atau perahu. Ini lah yang dilakukan para pendahulu, yang kini masih menjadi tradisi di nagari kami hingga 5 hari kedepan”

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan mengatakan, tradisi Bakajang mempunyai nilai budaya yang tinggi, sehingga berpotensi dikembangkan untuk pariwisata budaya.

“Bakajang harus tetap dilestarikan dan diwariskan ke setiap generasi, serta hal ini juga salah satu alasan menjadikan Harau Menuju Geopark Dunia yang memiliki 3 konsep yaitu menjaga tradisi, menegakkan syarak, dan mambangkik batang tarandam,” jelasnya ketika menghadiri prosesi kegiatan bakajang dan manjalang mamak di Gunuang Malintang, Selasa (19/06/2018).

Jika ditelisik dari perjalanan sejarah serta bahasa, kata Ferizal, Bakajang memiliki dua pengertian, yakni perahu dan pembaharuan. Perahu, katanya, merupakan alat transportasi nenek moyang warga Gunuang Malintang yang tinggal di pinggiran Batang Maek, pada zaman dulu.

Sedangkan, pembaharuan, diartikan sebagai kegiatan memperbaharui silaturrahmi antara mamak dengan kemenakan serta anak nagari, yang digelar setiap awal bulan Syawal atau setelah Hari Raya Idul Fitri.

(Akang Basi Tuo)