Bukittinggi – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, melontarkan tantangan keras bagi mahasiswa baru Universitas Mohammad Natsir (UMN) Bukittinggi.
Saat membuka Masa Ta’aruf di Aula Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Senin (28/9/2026), ia menekankan bahwa menyandang nama besar Mohammad Natsir adalah sebuah amanah moral, bukan sekadar identitas administratif.
Mahyeldi menegaskan, mahasiswa harus mampu menginternalisasi integritas dan pemikiran negarawan yang dikenal sebagai penggagas Mosi Integral tersebut.
Baginya, Natsir adalah pilar penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini.
“Ke depan, kita berharap mahasiswa di sini bisa menginternalisasikan nilai-nilai dari Pak Natsir. Kemudian menjadi tokoh baru yang mewarisi sifat beliau,” ujar Mahyeldi di hadapan sivitas akademika.
Bahkan, Gubernur mengusulkan perubahan singkatan kampus menjadi “UM Natsir”. Langkah ini ia nilai strategis agar keteladanan sang tokoh bangsa senantiasa melekat dalam keseharian para mahasiswa di lingkungan kampus.
Menanggapi tantangan tersebut, Rektor UMN Bukittinggi, Alfihan Afrifani Ahmad, mengakui bahwa nama besar tersebut memikul beban tanggung jawab yang berat. Ia menegaskan, institusi yang bernaung di bawah Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Sumbar ini berkomitmen mencetak lulusan yang melampaui standar akademik konvensional.
“Nama itu bukan hanya sebatas nama, tapi ada nilai-nilai di sana, ada beban,” tegas Alfihan.
Alfihan memastikan pendidikan di UMN akan berfokus pada penguatan karakter. Pihaknya tidak ingin mahasiswanya hanya mengejar ijazah, melainkan harus mampu membawa perubahan nyata bagi diri sendiri, keluarga, hingga skala nasional.
Menurut Alfihan, warisan intelektual dan kepedulian sosial dari sosok besar seperti Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, hingga Agus Salim harus menjadi kompas bagi mahasiswa.
Semangat tersebut, ia yakini, adalah kunci utama dalam melahirkan generasi yang mampu menjaga kedaulatan serta kesejahteraan bangsa.






