Nasional

Kecelakaan KRL Bekasi Timur Jadi Alarm Keras, DPR Minta Perbaikan Sistem

52
×

Kecelakaan KRL Bekasi Timur Jadi Alarm Keras, DPR Minta Perbaikan Sistem

Sebarkan artikel ini

Abdul Hadi meminta seluruh korban luka mendapatkan penanganan terbaik dari PT KAI dan pihak rumah sakit.

Anggota Komisi V DPR RI Abdul Hadi menyampaikan duka cita mendalam atas kecelakaan tragis antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Anggota Komisi V DPR RI Abdul Hadi menyampaikan duka cita mendalam atas kecelakaan tragis antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Jakarta – Anggota Komisi V DPR RI Abdul Hadi menyampaikan belasungkawa mendalam atas kecelakaan maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Hingga Selasa (28/4), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan telah mencapai 14 orang, sementara puluhan korban lainnya masih mendapat perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Dalam keterangan rilis kepada Parlementaria, Selasa (28/4/2026), Abdul Hadi meminta seluruh korban luka mendapatkan penanganan terbaik dari PT KAI dan pihak rumah sakit.

“Saya menyampaikan simpati, empati, dan duka cita yang mendalam kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Saya juga meminta agar seluruh korban luka mendapatkan penanganan maksimal dari KAI dan fasilitas kesehatan, tanpa kompromi,” ujarnya.

Ia menilai insiden tersebut bukan sekadar kecelakaan lalu lintas kereta biasa, melainkan peringatan keras bagi keselamatan transportasi perkeretaapian nasional.

Menurut dia, peristiwa ini mengindikasikan adanya potensi masalah sistemik yang harus segera dibenahi melalui evaluasi menyeluruh, terutama pada sistem persinyalan, proteksi perjalanan kereta, dan pengamanan perlintasan sebidang.

“Peristiwa ini menegaskan bahwa keselamatan transportasi publik harus menjadi prioritas utama. Ini bukan sekadar kecelakaan, tetapi sinyal adanya potensi persoalan sistemik yang harus segera dibenahi,” tegasnya.

Abdul Hadi juga mendesak Kementerian Perhubungan bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi secara utuh, transparan, dan berbasis bukti.

Ia menekankan agar penyelidikan tidak hanya berhenti pada satu faktor, melainkan mencakup unsur manusia, teknis, dan sistem operasional secara keseluruhan.

Sorotan khusus ia berikan pada rangkaian kejadian yang diduga memicu tabrakan beruntun tersebut. Berdasarkan informasi awal, sebuah taksi tertemper KRL di perlintasan setelah Stasiun Bekasi Timur.

Dampaknya, rangkaian KRL tertahan di stasiun sebelum kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek dari belakang.

“Rantai kejadian ini harus dibuka secara terang. Fakta bahwa ada KRL yang tertahan seharusnya dapat terdeteksi dalam sistem. Persinyalan mestinya memberikan peringatan jelas kepada kereta di belakang bahwa jalur belum aman. Ini yang harus diusut: apakah ada kegagalan sistem, prosedur, atau koordinasi,” katanya.

Selain menyoroti insiden tersebut, Abdul Hadi mengingatkan bahwa perlintasan sebidang masih menjadi titik paling rawan dalam sistem perkeretaapian Indonesia.

Dengan ribuan perlintasan yang tersebar di berbagai daerah dan sebagian belum dijaga optimal, risiko kecelakaan berulang tetap tinggi.

“Masuknya kendaraan ke jalur rel hingga menyebabkan KRL berhenti adalah persoalan serius. Ini menunjukkan pengamanan perlintasan masih lemah dan berisiko tinggi. Harus ada evaluasi total, mulai dari infrastruktur, pengawasan, hingga disiplin pengguna jalan,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, ia mendorong penutupan perlintasan sebidang yang berisiko tinggi, percepatan pembangunan flyover dan underpass di jalur padat, serta penguatan penegakan hukum melalui tilang elektronik dan sanksi tegas bagi pelanggar.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan penerapan teknologi keselamatan seperti Automatic Train Protection (ATP) agar kereta dapat berhenti otomatis ketika muncul potensi bahaya atau pelanggaran sinyal.

“Keselamatan tidak boleh bergantung pada satu faktor. Harus ada sistem berlapis yang kuat, mulai dari teknologi, infrastruktur, hingga disiplin pengguna,” tambahnya.

Abdul Hadi menilai tragedi ini menjadi catatan penting di tengah evaluasi transportasi nasional yang sebelumnya menunjukkan perbaikan, termasuk saat arus mudik Lebaran.

Namun, ia mengingatkan bahwa kelengahan justru kerap terjadi ketika situasi tidak terlalu padat.

“Catatan bagi kita semua, meskipun Komisi V baru saja mengevaluasi transportasi mudik Lebaran dengan hasil yang relatif baik, namun justru di saat tidak padat kita lengah dan kecolongan. Ini harus menjadi bahan introspeksi serius,” tegasnya.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.