Padang Panjang – Sebuah alat penguat sinyal tanpa baterai berhasil diciptakan oleh Seorang pemuda asal Kampung Teleng, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.
Penemuan baru tersebut berhasil diciptakan Redho Fermana Kusuma (33) yang berhasil menciptakan alat penguat sinyal yang diberi nama ‘Langkitang Signal.
Redho mengatakan, pemberian nama Langkitang tersebut berasal dari bahasa minang yang berarti hewan Siput.
Dia mengungkapkan makna pemberian nama itu mirip dengan prinsip hewan Langkitang, yaitu menghisap berbagai hal, terutama lumut yang ada disekitarnya.
“Ya, namanya ini sesuai dengan prinsip Langkitan (Siput), menyedot yang ada disekitarnya, nah, alat ini juga berfungsi seperti itu,” kata Redho kepada Merdeka.com di Padang, Rabu (10/11).

Redho menjelaskan, Langkitang Signal berfungsi sebagai penguat sinyal, terutama di daerah dan kawasan yang sulit mendapatkan sinyal telekomunikasi.
“Alat ini sebagai penguat, jadi biasanya di satu kawasan itu tidak bisa dapat 4G, hanya HSDPA, bisa dapat 4G,” jelas Redho.
Dia sudah melakukan tes dan uji coba terhadap alat ini hingga puncak Gunung Singgalang, Sumatera Barat.
“Ya, disana yang biasanya susah dengan sinyal, dengan alat ini, bisa sampai puluhan Mbps kita dapat malahan. Untuk kecepatannya sendiri bisa mencapai 120 Mbps untuk download, 80 Mbps untuk Upload,” ungkap Redho.
Alat ini tidak memerlukan energi apapun, termasuk baterai, dan hanya perlu diletakkan dekat dengan penerima sinyal .
“Cuma ditaruh saja, untuk radiusnya itu, radius 50 meter itu bisa terjangkau. Tidak memerlukan baterai, asalkan komponennya tidak ada yang rusak, itu bisa berfungsi selamanya,” jelas Redho.
Saat ini, Langkitang Signal sendiri sudah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Pemasarannya sendiri sudah mencapai luar Sumatera Barat (Sumbar) seperti Sleman, Yogyakarta hingga Gorontalo.
Menurutnya, hadirnya Langkitang Signal ini bisa menjawab kebutuhan sinyal yang ada pada daerah-daerah yang minim, dan terkadang tidak mendapatkan sinyal telekomunikasi.
Dia menceritakan, jika penemuan ini bisa ia lakukan berkat pengalamannya selama lima tahun berada di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI.
Selain itu, dirinya saat ini telah mengeluarkan tiga varian Langkitang Signal diantaranya v.3.1.a, v.3.2.a dan v.3.4.a. “Fungsinya sama, tapi kekuatannya berbeda-beda, contoh yang v.3.4.a itu, didalamnya penguat sinyal double, dan lebih kuat menangkap,” jelas Redho.
Untuk harganya sendiri, dia mematok dari Rp 90 ribu hingga Rp 200 ribu tergantung jenis produk yang dipilih.
Selain itu, dalam pengoperasiannya, Langkitang Signal diletakkan didekat smartphone. Untuk bisa terhubung pengguna harus mematikan smartphonenya sekitar dua menit, dan menghidupkan mode airplane sekitar 30 detik.
“Kemudian, dihidupkan lagi seperti biasa, dan coba lihat perbedaannya. Kalau ingin lebih mengetahui perbedaannya, bisa ke daerah yang biasanya susah sinyal, atau menggunakan aplikasi speed test,” kata Redho.
Dia berharap agar penemuan ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang berada di daerah yang susah mendapatkan sinyal. “Kita harap alat ini membantu masyarakat, sudah ada beberapa yang ajak kerjasama, kita terbuka, terutama untuk membantu masyarakat,” tutup Redho.






