Opini  

Mahardika Muda Dan Persatuan Partisipatif Melunasi Janji Merdeka Melalui Pendidikan

Oleh: Ghufron Akbari Wardana

Padang-Janji merdeka sudah lama diproklamirkan, tetapi pelunasan janji itu, belum tuntas terbayarkan. Kepada siapa kita hendak menuntut? Kepada para founding father yang memproklamirkan? Raga mereka sudah tiada. Kepada pemerintah? Apalah pemerintah tanpa dukungan rakyatnya. Kepada rakyat? Sementara rakyat sedang merapal harapan pula.

Agaknya berharap kepada suatu bagian parsial saja tidaklah dapat mempercepat pelunasan janji medeka, kita butuh suatu inisiatif, Inisiatif itu ibarat api; sekecil apapun akan menjadi percik yang menerangkan. Metafora ini, apabila dilanjutkan, artinya apabila inisiatif kecil itu dijadikan gerakan kolektif atau suatu gerakan universal, akan mampu menjadi percepatan pelunasan janji merdeka.

Dasar gerakan kolektif atau persatuan partisipatif sebetulnya telah terpatri dalam rumusan Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sungguh pun begitu, semboyan tersebut tidak akan tercapai jika kita melupakan lanjutannya, yaitu tan hana dharma mangrwa – tak ada kebaikan yang mendua dalam tujuan – (Nurcholish Madjid, Indonesia Kita).

Apabila kita refleksikan kembali peristiwa Sumpah Pemuda, peristiwa yang menjadi pondasi persatuan bangsa itu, agaknya dapatlah kita ambil ibrah bahwa persatuan yang dibangun-kembangkan di Indonesia bukanlah persatuan yang kaku, melainkan persatuan yang fleksibel dan melibatkan partisipasi rakyat dengan natural.

Perlu diingatkan bahwa yang dikehendaki ialah partisipasi. Biasanya istilah itu dipertentangkan atau dilawankan dengan istilah mobilisasi. Dalam partisipasi terdapat dorongan emosional atau motivasi yang inheren pada pihak pelaku partisipasi sendiri yaitu rakyat, atau lebih khusus dalam hal ini pemuda.

Karena itu partisipasi dilakukan dengan kesungguhan hati dan antusiasme yang menjadi sumber tenaga, pada gilirannya nanti, hal-hal itu amat erat hubungannya dengan produktivitas. Sedangkan mobilisasi merupakan hasil pengerahan tenaga oleh pihak yang sedang berkuasa, yang dengan sendirinya mengimplikasikan adanya paksaan. (Nurcholish Madjid, Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan).

Oleh karena itu, untuk menopang pembangunan nasional, dan dalam rangka ikut melaksanakan perdamaian dunia, serta terlibat dalam pencapaian tujuan besar Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu “No One Left Behind” maka persatuan partisipatif dengan pendekatan kompetensi 4C dalam konsep Pendidikan abad 21 agaknya dapat menjadi satu diantara berbagai solusi.

Mahardika Muda dan Kompetensi 4C

Dalam konsep pendidikan Abad 21, peserta didik dibekali dengan kompetensi 4C; (1) Critical thingking and problem solving, (2) Communication, (3) Creativity, dan (4) Colaboration. Empat aspek ini akan menopang sekali untuk mempermudah proses percepatan kesuksesan.

Pertama, peserta didik yang mempunyai kompetensi critical thingking, dapatlah dirinya mengikuti suatu tradisi dengan pengetahuan yang mengakar bahwa tradisi itu memang baik dan benar, serta mampu membuat kemajuan. Apabila tradisi itu keliru atau bermasalah dan membelenggu, ia mampu memperbaiki dan membenarkannya, diberikannyalah solusi atas tradisi yang keliru itu. Itulah mengapa critical thingking disandingkan setelahnya kompetensi problem solving (pemecahan masalah).

Sebagai pemuda yang berpendidikan, kawan-kawan beserta saya mengimplementasikan kompetensi ini dengan ikut menginisiasi Organisasi Mahardika Muda dengan program unggulannya Mahardika Mengajar. Ini adalah bentuk kritik dan solusi yang kami lahirkan atas keresahan terhadap kondisi Pendidikan di Indonesia yang masih timpang dalam kuantitas dan masih kalah saing secara kualitas. Kami sepakat dengan ungkapan Anies Baswedan, bahwa “Mendidik bukanlah tugas pemerintah saja, tapi tugas setiap insan yang terdidik.”

Organisasi ini mengusung konsep “pembaharu yang cermat dan siap turun tangan” maksudnya, bejibun kritik yang tertanam dalam benak atas hasil obrolan-obralan sederhana di sudut-sudut tongkrongan, tidaklah boleh hanya menjadi retorika, melainkan mesti dijadikan kerja kemanusiaan (amal shaleh) dengan turun tangan aksi nyata. Sejauh ini, program Mahardika Mengajar telah melaksanakan pengabdian di tiga daerah terpencil, dengan total volunteer lebih dari 150 orang yang diterima, dan sekitar 750 orang yang mendaftar.

Kedua, Creativity – Menurut khazanah keilmuan saya di fakultas ushuluddin salah satu mata kuliah wajib setiap jurusan adalah ilmu mantiq atau ilmu logika. Disana diajarkan bagaimana cara mendefinisikan suatu term (kata). Arti kata definisi adalah pembatasan. Syarat definisi adalah adanya Genus (Jenis), diferensiasi (pembeda), dan adanya spesia. Jadi, yang membuat sesuatu itu dikenal sebagai dirinya adalah terletak pada apa perbedaannya dengan yang lain. Dalam bahasa yang lebih popular, kita bisa merujuk kepada quotes dari seorang komedian terkenal; Panji Pragiwaksono, ia berkata: “Sedikit berbeda lebih baik daripada sedikit lebih baik.” Dari pemahaman seperti inilah saya mengartikan konsep kreatifitas.

Ketiga, – communication. Tan Malaka dalam buku Madilog pernah berkata: “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Itulah tujuan kompetensi komunikasi dalam Pendidikan Abad 21, supaya orang-orang yang terdidik tidak terjarak dengan masyarakatnya. Seperti itulah makna communication yang berasal dari kata communist (setara).

Dalam aktualisasinya, supaya orang-orang berpendidikan tinggi tidak terjarak dengan masyarakatnya karena sering memakai istilah-istilah ilmiah yang belum tentu dipahami masyarakat awam, maka kegiatan Mahardika Mengajar mengusung gagasan “World Class Competence and Grass Root Understanding” Artinya, para volunteer yang notebene-nya adalah mahasiswa yang telah mempelajari pola pikir dunia, diharapkan tetap mampu bertukar tambah pikiran dengan bahasa-bahasa yang dimengerti oleh masyarakat di daerah pengabdian. Bagian ketiga ini saya tutup dengan meminjam quotes Wiji Tukul “Apa guna banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu. Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli.” Artinya, orang terdidik harus bicara dan memberdayakan lingkungannya.

Keempat, Colaboration – apa-apa yang telah dilalui sejauh ini selama berkarya, kesuksesannya tidaklah pernah karena hasil usaha sendiri. Selalu ada elemen masyarakat yang terlibat membantu di dalamnya. Jika kita belajar dari film End Game oleh Marvel, dapatlah kita pahami bahwa superhero pun menyadari kalau dia tidak bisa menaklukkan musuh sendirian, ia pun butuh superhero-superhero lainnya supaya terbentuk superteam. Dalam dunia nyata pun sebenarnya superhero itu tidak pernah ada, yang ada hanyalah superteam yang bekerja di dalam kolaborasi.

Akhirnya, berlandas pada semangat persatuan partisipatif yang berhasil dilaksanakan di Indonesia, agaknya dapatlah gagasan ini ditawarkan pula dalam ranah global. Bahwa perbedaan itu adalah fitrah, tapi saling melengkapi merupakan ibadah. Dan sebetulnya, “perbedaan antara manusia dan binatang” ungkap Yuval Noah Harari, “tidaklah terletak pada level individu, melaikan pada kemampuannya bekerja sama secara kolektif dan fleksibel dalam jumlah yang besar. (Yuval Noah Harari dalam seminarnya di TEDx pada tahun 2015)

Inilah yang bisa dirumus-kembangkan oleh pemuda apabila mampu melakukan persatuan partisipasif melalui konsep Pendidikan abad 21 dengan memaksimalkan kompetensi 4C

Pemuda ‘Gila’: Pemimpin Hari Ini

Pemuda dalam syair gubahan Syauqi Beik, seorang penyair Arab modern mengatakan “Pemuda hari ini, pemimpin hari esok.” Bagi saya, pemuda hari ini adalah pemimpin hari ini. Sebab pemimpin itu adalah soal pengaruh, dan tidak ada istilah terlalu muda untuk berpengaruh.

Berdasar tujuan utama SDGs, yaitu “No One Left Behind”, konsep Pendidikan abad 21 dengan kompetensi 4C, serta pemahaman bahwa perbedaan manusia dengan makhluk lainnya secara mendasar terletak pada kemampuannya bekerja sama secara kolektif dan fleksibel. Maka, pemuda dengan kegilaannya akan dapat mengimplementasikan itu semua dengan daya kreatif, komunikatif, berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta daya komunikasinya sebagai pemimpin hari ini dan berpengaruh hari ini juga.

Penulis adalah Ghufron Akbari Wardana, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Founder Mahardika Muda