Opini  

Muhasabah Massa Aksi Pasca Demonstrasi

Oleh: Rifaldi Makriwal

Dok. Istimewa (Rifal)

Padang-Melihat dari latar belakangnya, kemunculan Reformasi berawal dari isu-isu nasional yang semakin memburuk. Pada masa itu berbagai Gerakan-gerakan dari kalangan mahasiswa bermunculan. Kemunculan gerakan-gerakan tersebut dipicu oleh adanya konflik sesama masyarakat, dan memang kondisi pada saat itu sangat tidak stabil. Stabilitas nasional yang terjadi pada peristiwa yang sering kita kenal sebagai peristiwa Reformasi itu terancam hancur.

Lebih dari pada itu, pada saat aksi TNI tidak sanggup lagi menagamankan gedung DPR/MPR RI, sehingga massa demonstran pun mulai mencapai puncak Klimaks. Puncak Klimaks terjadi ketika seluruh mahasiswa dan elemen masyarakat yang turun ke jalan berhasil menguasai seluruh komplek gedung DPR/MPR RI.

Akhirnya dengan suasana yang semakin memburuk, konflik terjadi dimana-mana dan korban dari kalangan mahasiswa pun berjatuhan. Peristiwa ini mendorong Presiden Soeharto membuat suatu keputusan yang sangat berat dan sangat sulit yaitu tepat pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri dari tahta puncak kepemimpinan di Republik Indonesia.

Merujuk dari peristiwa awal Reformasi tersebut, penulis melihat dari Film Dibalik 98 banyak nilai-nilai yang perlu kita gali sebagai seorang mahasiswa yang notabene nya adalah anak muda. Dengan mengutamakan rasa keadilan mahasiswa mampu memperjuangkan keresahan masyarakat kala itu yang sudah menderita di rezim orde baru. Tak hanya sebatas itu, hampir seluruh aspek mulai dari persoalan ekonomi, korupsi, agama, sosial dan budaya jauh dari kata keadailan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mahasiswa yang benar-benar kritis tentang persoalan bangsa akan selalu menggali lebih dalam permainan yang di ciptakan oleh elite bangsa pada saat itu. Dan itu memang di lakukan oleh mahasiswa pada awal Reformasi tersebut. Penulis mengamati dari Flm Dibalik 98 bahwa mahasiswa memang betul mengatasnamakan keresahan yang tidak tertahan lagi dan memang betul penguasa harus diturunkan tanpa ada kepentingan lain.

Mahasiswa yang turun dari seluruh Indonesia memiliki kajian yang strategis dan mendalam serta selaras dengan realita yang ada masa itu. Narasi-narasi yang di bangun memang realistis sesuai dengan dinamika politik sebelum aksi akbar terjadi. Berdasarkan pengamatan tadi dapat penulis katakan bahwa mahasiswa yang ikut turun aksi demonstrasi pada tahun 1998 memang mahasiswa yang betul-betul paham dan mengerti dengan situasi dan kondisi negara yang sudah tidak baik-baik saja.

Tak hanya itu, para mahasiswa yang hadir dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat yang telah di rampas oleh rezim memiliki nilai-nilai tersendiri. Artinya mahasiswa saat itu memilki gagasan yang matang dalam mengkritisi dan menuntut pemerintah. Adanya gagasan yang membangun menjadi tolak ukur perjuangan mahasiswa yang bersih tanpa adanya unsur-unsur politis yang hendak memanfaatkan situasi dari kalangan masyarakat Indonesia.

Dapat penulis katakan bahwa mahasiswa di era Reformasi memiliki nilai-nilai juang yang harus kita jadikan cerminan bagi mahasiswa-mahasiswa yang lahir di pasca Reformasi. Sejarah dalam Reformasi pun menjadi sejarah yang kelam bagi bangsa Indonesia pada saat itu. Sehingga mahasiswa harus semakin kritis dalam memfilterisasi segala isu nasional yang menghantam hancur perjuangan Reformasi.

Namun, sejarah Reformasi yang sudah hampir 24 tahun berlalu nyaris terulang kembali pada tanggal 11 April 2022 kemaren. Artinya permasalahan yang terjadi pada saat ini sudah hampir mencapai suatu klimaks yang membuat mahasiswa kembali hadir dalam meprjuangkan hak-hak masyarakat Indonesia yang telah di rampas oleh rezim sekarang.

Dalam aksi yang terjadi kemaren, banyak mahasiswa yang turun ke jalan, namun penulis menilai banyak menyalahkan arti dari nilai-nilai perjuangan yang telah dikemas pada masa awal Reformasi dahulu. Timbul keresahan dari diri penulis melihat mahasiswa yang ikut aksi 11 April tidak betul-betul memaknai isu-isu nasional yang menjadi gugatan atau tuntutan pada aksi akbar tersebut.

Penulis sendiri sempat menanyakan ke berapa mahasiswa yang ikut aksi di DPRD Sumatera Barat dua hari yang lalu. Dalam pembicaraan singkat tersebut mereka banyak mengatakan belum paham betul mengenai kajian teoritis dan empiris yang akan disampaikan kepada wakil rakyat kita. Dan ada juga mengatakan hanya ikut-ikutan dalam aksi tersbut agar merasakan aksi demonstrasi.

Penulis dapat memberikan pandangan bahwa mahasiswa sekarang sudah banyak cacat dalam meperjuangkan nilai-nilai perjuangan Reformasi. Bahkan banyak pula bermunculan jargon ataupun narasi-narasi dari alat peraga yang tidak etis dan tidak sahrusnya itu bahas seorang mahasiswa. Artinya mahasiswa yang merupakan kaum intelektual memang harus bisa memaknai setiap narasi yang akan ditulis dan disampaikan.

Kemudian, dapat kita lihat sendiri yang sudah banyak viral pada saat sekarang narasi seperti “Lebih Baik Bercinta 3 Ronde Daripada Harus 3 Periode” ini salah satu kasus nyata yang membuktikan mahasiswa sekarang sudah turun intelektualitas sebagai seorang mahasiswa dan masih banyak lagi narasi yang ekstrim dan tidak sepatutnya itu disampaikan.

Mahasiswa sekarang yang hendak membersamai perjuangan aspirasi rakyat tentu harus bisa memahami betul kondisi negara yang sedang darurat. Bukan untuk ikutan saja dalam membersamai. Di sisi lain memang betul bahwa semakin banyak mahasiswa yang ikut maka semakin kuat Legitimasi yang di dapatkan. Namun, disisi lain mahasiswa yang ikut tentu harus memlik gagasan dan ide dalam menyikapi persoalan yang akan dituntut.

Kebanyakan sekarang mahasiswa yang ikut serta dalam aksi akbar 11 April 2022 hanya untuk memenuhi konten di sosial media saja. Sangat disayangkan jika hanya untuk pemuasan diri, dimana lagi kritisme kita sebagai Control Social. Artinya kita sebagai Control Social harus memiliki sikap yang kritis terhadap dinamikan yang terjadi di Republik ini.

Sehingga dapat penulis simpulkan perbedaan aksi dari awal Reformasi dan di era rezim sekarang memang di pelopori mahasiswa sendiri atas dasar keresahan. Namun, letak yang paling mendasar adalah sikap yang kritis, intelektualitas serta kode etik sebagai mahasiswa berkurang melihat kejadian aneh yang muncul dari narasi-narasi yang tidak membangun tersebut.

Harapan kedepan kita sebagai mahasiswa harus memang betul menjadi mahasiswa yang kritis, peka terhadap dinamika nasional serta memiliki intelektualitas dalam melakukan sesuatu serta yang paling penting harus menjaga kode etik kita sebagai seorang mahasiswa yang terpelajar dan memiliki jiwa Contro Social yang tinggi. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan evaluasi!