Sala Lauak, Cemilan Gurih Temani Lawatan ke Kota Tabuik

Sala Lauak, Raking Udang, Rakik Kapitiang penganan khas Minangkabau dari Pariaman./Lidairak
Sala Lauak, Rakik Udang, Rakik Kapitiang penganan khas Minangkabau dari Pariaman./Lidairak

Memasuki 5 Muharram 1439 Hijriah, seakan tidak ingin melewatkan prosesi ritual menjelang Hoyak Tabuik 2017, Kota Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (27/9/2017). Hoyak Tabuik tahun ini akan jatuh pada tanggal 1 Oktober 2017.

Kota yang terkenal Tabuik, masyarakat setempat menyebutnya ‘Pariaman Tadanga Langang, Dek Tabuik Makonyo Rami’, penulis bersama kawan pewarta foto, Zulkifli berangkat dari Kota Padang ke Pariaman. Cuaca cukup bersahabat saat kendaraan melaju kencang mengaspal di Jalan By Pass, Kota Padang-Jalan Raya Bandara Internasional Minangkabau sampai rehat di Jalan Syekh Burhanuddin, Kabupaten Padang Pariaman.

Ya, Ulakan nama daerahnya. Kiri dan kanan saat mengaspal terlihat kedai-kedai tradisional milik warga setempat berjejer. Dari kejauhan udara mengelitik hidung saat Sala Lauak tengah digoreng oleh pedagang. Tak hanya itu di atas etalase, berjejer masakan khas Pariaman. Bulat-bulat bak bola pingpong berwarna kuning seakan mengundang selera.

Penulis bersama Zulkifli berhenti di salah satu warung di Ulakan, kawasan yang merupakan markas besar Syekh Burhanuddin, pembawa wahyu ajaran Tarikat Syattariyah. Yang juga salah satu murid Syekh Abdur Rauf al Singkli, Aceh. Mata pun tak terlepas Sala Lauak, penganan berbentuk bulat itu bak gadis manis menggoda lawan jenisnya.

Memang tidak salah lagi, Sala Lauak benar-benar amazing, ternyata tidak hanya teksturnya saja yang menggoda, rasa sedikit asin itu membuatnya renyah dalam kunyahan. Sekali coba bikin ketagihan. Novarina Nengsilova, penjaja Sala Lauak tak sungkan-sungkan menerangkan gorengan ikan asin yang dibuat halus kemudian dipermak jadi bulat kecil. Tak hanya Sala Lauak, Rakik Udang, Kepiting, Udang Tusuk juga berjejer di atas etalase kedainya. Etty (54) sesama pedagang, bersebelahan dengan Novarina, juga mendagangkan yang sama.

Usai puas memotret dan mencicip satu, dua sampai tiga Sala Lauak, kami pun meneruskan perjalanan menuju Kota Pariaman. Sepanjang perjalanan Sala Lauak terus menemani, dan tak membuat mulut berhenti mengunyah, penganan gurih asal Pariaman memang cocok untuk menemani perjalanan. Tidak hanya saat sarapan atau saat makan malam.

Loading...
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...