Sulitnya Akses, Pertamina Perluas Layanan Pangkalan Elpiji

Padang – Warga Kecamatan Tanjung Gadang, Kabupaten Sijunjung Eli Mawarni mengatakan, ia merasakan manfaat hadirnya pangkalan elpiji baru di wilayahnya. Sebelumnya, ia mesti menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh elpiji bersubsidi.

“Terima kasih kepada Pertamina, karena sekarang saya tidak perlu jauh-jauh lagi beli gas untuk keperluan saya,” ungkap Eli Mawarni.

Darussalam yang juga merupakan warga Kecamatan Tanjung Gadang, dulu mesti merogoh kocek lebih dalam untuk membeli elpiji bersubsidi di pengecer karena dijual di atas harga eceran tertinggi (HET). Sekarang ia bisa mendapat elpiji sesuai HET dengan hadirnya pangkalan baru di Kecamatan Tanjung Gadang.

Pjs. Unit Manager Comm Rel & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Nurhidayanto mengatakan program penambahakan pangkalan tersebut bertujuan untuk memperluas ketersediaan dam akses jangkauan elpiji.

“Penambahan pangkalan melalui program Satu Desa Satu Pangkalan memang sedang gencar digulirkan Pertamina. Program ini bertujuan untuk memperluas ketersedian, kemudahan akses, dan keterjangkauan elpiji ke masyarakat. Khususnya di wilayah-wilayah pelosok yang sebelumnya tidak memiliki pangkalan resmi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa selama ini kehadiran pengecer mengakibatkan elpiji 3 kg dijual di atas HET. Selain itu, kehadiran pengecer tersebut mendorong pasokan elpiji di pangkalan lekas habis.

“Untuk Sumatera Barat, program satu desa satu pangkalan kini sudah hadir 100 persen di seluruh nagari. Sebanyak 3.369 pangkalan dan 107 agen elpiji 3kg hadir di 18 kota/kabupaten, 169 kecamatan, dan 1.116 nagari atau desa di Sumbar,” kata Nurhidayanto.

Program satu desa satu pangkalan juga bekerja sama dengan nagari. Seperti di Kabupaten Sijunjung, pangkalan elpiji 3 kg subsidi bekerja sama dengan BUMNag ataupun Bumdes, sebagai program yang menjadi penyumbang ekonomi bagi nagari.

“Kami sampaikan, penambahan pangkalan tidak berarti alokasi kuotanya juga bertambah. Karena kuota kan sudah ditetapkan pemerintah, tidak berubah. Contohnya sebelum adanya program ini, di Kota Solok terdapat 47 pangkalan dengan rata-rata alokasi 977 tabung per pangkalan. Setelah adanya program ini, jumlah pangkalan di Kota Solok menjadi 59 pangkalan dengan rata-rata alokasi jadi 778 tabung per pangkalan,” tutur Nurhidayanto.

Untuk 2020, sisa kuota elpiji 3kg hingga akhir tahun adalah sebanyak lebih dari 6,5 juta tabung, dan harus dijaga hingga sampai akhir tahun.

Berdasarkan catatan Pertamina, sepanjang Juli hingga September 2020 penyaluran elpiji 3 kg subsidi di Sumbar sudah mencapai lebih dari 9,5 juta tabung, serta elpiji non subsidi seperti Bright Gas, sebanyak lebih dari satu juta tabung. Untuk menghindari tabung elpiji bersubsidi dijual kembali oleh pengecer, sehingga pertamina menetapkan satu kepala keluarga hanya boleh membeli satu tabung elpiji bersubsidi.

Loading...
BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...