Kota Padang

Wawako Padang Tekankan Kolaborasi, Penanganan ATS Jadi Prioritas Serius

24
×

Wawako Padang Tekankan Kolaborasi, Penanganan ATS Jadi Prioritas Serius

Sebarkan artikel ini
Foto : Internet

Padang – Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus memperkuat penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Langkah ini dilakukan melalui Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pencegahan dan Penanganan ATS Kota Padang Tahun 2026.

Kegiatan itu berlangsung di Gedung Youth Center, Kamis (16/4/2026).

Rapat tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir bersama lintas sektor terkait.

Forum ini menyatukan data, strategi, dan komitmen untuk memastikan hak pendidikan anak terpenuhi.

Namun, capaian pendidikan Kota Padang tergolong tinggi dengan APK SD 110,54 persen.

Selain itu, APK SMP juga mencapai 110,29 persen.

Meski demikian, persoalan ATS masih menjadi pekerjaan besar yang harus dituntaskan.

Berdasarkan data Pusdatin Kemendikdasmen per 1 April 2026, terdapat 6.615 anak tidak sekolah.

Jumlah itu menurun dari 7.178 anak pada data sebelumnya.

Dari total tersebut, 153 anak berhasil kembali ke jalur pendidikan formal maupun nonformal.

Hasil ini menunjukkan intervensi lapangan mulai memberikan dampak positif.

Rapat ini turut dihadiri Disdikbud, Kelurahan, dan Kecamatan se-Kota Padang.

Dalam forum itu, Maigus Nasir menegaskan pentingnya melihat persoalan ini secara menyeluruh.

“Tidak ada gunanya bangunan menjulang tinggi jika di sisi lain anak-anak kita menghadapi masa depan yang suram,” kata Maigus.

Ia juga menekankan pendidikan harus dibangun melalui penguatan intelektual, karakter, dan daya saing global.

“Program Padang Juara dan Smart Surau adalah komitmen untuk melahirkan anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan siap bersaing hingga tingkat internasional.”

Selanjutnya, Maigus menyampaikan optimisme terhadap target penurunan ATS.

“Target kita empat tahun ke depan, Padang memiliki angka nol ATS. Minimal, jangan ada lagi penambahan ATS pada 2026,” tegasnya.

Rapat ini juga membahas berbagai penyebab anak keluar dari sekolah.

Mulai dari faktor ekonomi, pernikahan dini, hingga anak yang sudah bekerja.

Selain itu, jarak rumah dan persoalan kesehatan juga menjadi perhatian.

Karena itu, pendekatan dilakukan tidak hanya berbasis data dan regulasi.

Namun, juga melalui pendampingan keluarga, motivasi anak, dan pemberian beasiswa.

Penguatan pembelajaran masyarakat melalui masjid dan lingkungan kelurahan turut dilakukan.

Melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, kelurahan, orang tua, dan masyarakat, penanganan ATS terus diperkuat.

Upaya ini menegaskan bahwa menyelamatkan satu anak berarti menyelamatkan satu masa depan.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.